JAM TETBANG 2
Bab 21 : Bayang-bayang
“Jadi, Mas Ar itu pernah hubungin kamu, Syah.” Khalila sedang bersama Aisyah yang malam ini sedang menginap di rumahnya.
“Iya, cuma perantara. Keperluannya sebenernya sama Kak Har, buat tanya soal FOC.”
“Jadi itu alasan kamu bengong waktu mandangin dia di rapat 17an?”
“Aku cuma lagi merhatiin, La.. wajahnya mirip nggak sama yang di foto profil.”
“Parhatiannya sampe bisa kayak gitu ya, Syah. Naksir ya?” Khalila memeluk gulingnya dengan wajahnya terus memandang ke wajah Aisyah.
“Ngapain sih kamu natap kayak gitu, La?” Aisyah tersipu dan wajahnya mencoba melirikan diri dari pandangan Khalila.
“Apa karena Mas Ar nggak ikut panita 17an, itu yang buat kamu juga nggak ikutan jadi panitia?” Tanya Khalila tiba-tiba.
“Dia masih beberapa kali ngobrol sama Kak Har. Kayaknya emang lagi sibuk banget buat persiapan kerja gitu, La. Makannya nggak mau ikut panitia.”
“Ngobrol di rumah kamu, Syah?”
Aisyah mengangguk, “Kalo aku males aja, La. Ikut-ikut panitia gitu. Capek ngadepin yang pada modus.”
“Tapi kalo Mas Ar ikut, terus dianya yang modusin kamu gimana? Bener? Tetep nggak mau ikutan jadi panitia?”
Aisyah tersenyum, “Kok nanyanya gitu, La?”
“Jadi beneran naksir nih?”
“Udah ada yang punya, La.”
“Kan baru pacaran, Syah.”
“Jangan kasih tau siapa-siapa soal ini ya, La.”
Selang beberapa hari setelah acara belajar kelompok waktu itu, kabar jadiannya Arkham dan Arlina begitu cepat menyebar di sekolah Aisyah.
“Assalamu’alaikum, Ais.”
“Ini aku Mas Ar, adik kelasnya kakak kamu di SMK.”
“Mas dapet nomor kamu dari temennya, Mas! Si Ilyas.
“Mas ada perlu, mau minta nomor kakak kamu.”
“Kalo ditanya keperluannya, bilang aja ke Kak Har, buat keperluan cari info soal FOC.” Dari awal memperkenalkan dirinya pada Aisyah, Arkham sudah menyebut nama panggilannya, Mas Ar.
“Wa’alakumussalam Mas Ar.”
“Iya tadi Ais udah izin Kak Har buat kasih nomernya ke Mas Ar.”
“Ini Mas, nomornya.”
“08XX-XXXX-XXXX.”
“OK, makasih banyak ya, Ais.”
“Sama-sama, Mas Ar.”
Aisyah sedang memandangi chat lama dari Arhkam malam ini. Sejak saat itu, Aisyah selalu terbayang-bayang sosok pemuda yang bernama Arkham dengan panggilan akrab dari teman-temannya yang juga memanggilnya dengan sebutan, Mas Ar.
Perkenalan yang baru dialamai Aisyah secara singkat, namun tragisnya langsung terhalang oleh tembok besar dengan munculnya kabar bahwa Mas Ar sudah jadian.
3 Tahun kemudian…
“Eh Ibunya Aisyah, tumben belanjanya sampe sini?” Tanya Ibunya Arkham sambil bersalaman ramah melihat tak biasanya Ibu Aisyah berbelanja di di warung dekat rumahnya.
“Ini tadi habis dari rumah Uwa sama Asiyah. Bapaknya Aisyah ngabarin warungnya Bu Marni yang deket rumah tutup, jadi sekalian belanja disini.”
“Aisyah lagi libur kuliahnya?” Ucapnya sambil memandang ke arah Asiyah yang duduk di motor di parkiran warung.
“Syah! Sini jangan di motor terus! Salim sama Ibunya Mas Arkham.”
Aisyah menuruti titah Ibunya, turun dari motor sampai kemudian menyalami, menyentuhkan punggung tangan Ibunya Arkham ke pipinya.
“Makin cantik aja Aisyah ini. Udah semester berapa kuliahnya, Syah?”
“Udah masuk semester 5 Bu.” Jawab Aisyah dengan senyum ramahnya.
“Sama ya.. Ar juga baru semester 5.”
“Nak Ar, lanjutin kuliahnya?” Tanya Ibunya Aisyah yang tangannya sudah mulai memilih cabai hijau di warung. “Bu Mah, ini cabenya seperempat aja ya!”
“Iya Bu.” Jawab Bu halimah sembari menimbang cabe hijau hasil sortir Ibunya Aisyah.
“Habis kerja setaun. Ar, ikut tes-tes beasiswa, dan alhamdulillah dapet.” Sementara Ibunya Arkham masih menghirup jeruk di tangannya sembari memilih yang kulitnya terlihat mulus.
“Jadi Nak Ar kuliah sambil kerja ya? Mandiri banget ya, Nak Ar itu.” Ibunya Aisyah lanjut memilih sayuran. “Kata Ayah tempenya yang bungkusan daun aja Bu!” Bisik Aisyah di samping Ibunya setelah membaca pesan Ayahnya di ponsel. “Kamu ambil aja ya, Syah! Ibu lagi milih sayur dulu.” Titah Ibunya membuat Aisyah menuruti mengambil tempe yang diminta Ayahnya.
“Iya Bu Aisyah. Dia itu ya, kalo udah urusan kerja sama belajar emang selalu rajin.” Jelas Ibunya Arkham yang sudah mendapatkan jeruk pilihannya sebanyak 6 buah.
“Jarang loh Bu, ada anak muda yang seperti Ar itu. Udah berbakti sama keluarga, mandiri, cakep lagi. Ngomong-ngomong calonnya, Nak Ar orang mana Bu?” Pertanyaan Ibunya Aisyah membuat putrinya yang sedang memilih tempe melirik Ibunya sesaat, lalu menoleh Ibunya Arkham seolah ikut menanti jawaban.
“Dulunya orang jauh katanya. Tapi tiap ditanya orang mana dia nggak mau bilang.” Jawaban Ibunya Arkham membuat Aisyah merasa penasaran.
“Karena merantau kali ya Bu, jadi kenalannya sama orang jauh.” Ibunya Aisyah berujar.
“Sebenernya udah dinasihatin biar cari yang deket-deket aja karena merantau. Jadi kalo istrinya ikut sama dia pas pulang bisa bareng, nggak perlu ribet, gantian pulang kampung ke tempat suami atau istri.” Jelas Ibunya Arkham.
“Betul itu, Bu. Kalo belum punya rumah juga mau istrinya ditinggal di rumah orang tua-nya masih enak buat jenguk pas pulang, soalnya deket sama rumah orang tua sendiri.” Sahut Bu Halimah tiba-tiba, sang pemilik warung. Siang menjelang sore memang warung biasanya sepi, sehingga saat ini hanya melayani 2 Ibu ini yang sedang membeli.
“Yaa.. tapi emang maunya lain orang tua mau gimana. Kita udah ngrestuin dan nawarin pacarnya buat dibawa pulang, tapi malah belum lama ini katanya udah putus.” Kata putus yang diucapkan Ibunya Arkham membuat Aisyah yang baru saja menyerahkan tempe ke Bu Halimah seperti mendadak bersemu cerah.
“Putus kenapa Bu? Mau nyari yang deket?” Tanya Ibunya Aisyah.
“Bilangnya sih gitu, cuma katanya kalopun deket nggak mau sama yang sekampung. Katanya perempuan yang masih sekampung itu sama aja kayak saudara.” Sungguh ungkapan yang membuat hati Asiyah mendadak mendung dan gundah.
“Lucu ya, Nak Ar.. bisa-bisanya berpikir seperti itu.” Ucap Ibunya Aisyah heran sembari menyerahkan sayur kacang dan kangkung ke Bu Halimah. “Bu Mah, jagung rebusnya nggak ada?” Ia menanyakan jagung yang merupakan makanan kesukaan suaminya.
“Kalo sore emang seringnya udah habis, Bu. Biasanya sebelum siang juga udah ludes.” Jawab Bu Halimah. “Arkham nggak mau sama tetangga sedesa apa bukan karena takut bernasib seperti Rama, Bu Ar?” Bu Halimah lanjut bertanya kemudian.
“Rama siapa, Bu Mah?” Tanya Ibunya Aisyah penasaran.
“Ya, siapa lagi kalo bukan si Rama itu yang rumah tangganya banyak masalah. Gara-gara istrinya, Sinta masih tetangga jadi masalahnya kedengeran sekampung.” Jelas Bu Halimah panjang memulai ghibah yang sebenarnya di warung.
Masalah yang menimpa Rama pada saat itu ialah ketika Rama baru saja menikah. Dia yang baru bekerja belum genap setahun memutuskan untuk meminang Sinta, tetangganya.
Baru saja menikah dengan menggelar pesta besar, sesaat kemudian tersiar kabar di kampungnya jika di perantauan dia baru saja membeli rumah cluster secara cash. Kabar itu pun ramai menjadi pusat perhatian. Warga menganggap betapa suksesnya Rama. Hingga pada saatnya semua itu terbongkar.
Suatu hari selang beberapa tahun, pegawai Bank mengunjungi rumah orang tuanya, meminta pertanggungjawaban atas uang pinjeman besar yang diambil oleh Rama menggunakan sertifikat rumah orang tuanya. Karena sudah jatuh tempo terlalu lama, akhirnya orang tua Rama lebih memilih menjual lahan perkebunan milik keluarga demi menyelamatkan tempat tinggal, itu pun baru cukup untuk menutup tunggakan, belum sampai pelunasan. Perkebunan luas yang biasa dibuat sebagai mata pencaharian kini hilang. Membuat orang tuanya hanya bekerja sabagai pencari rumput untuk hewan ternak titipan tetangganya.
Rama yang terkenal anak baik-baik pun akhirnya tercoreng namanya setelah kejadian itu. Dia memang tidak sampai berbuat maksiat seperti judi atau mabuk-mabukan, tapi kelakuannya yang berubah semenjak menikah membuatnya mendapat cap buruk di tengah-tengah masyarakat.
Dan begitulah godaan berkeluarga di perantauan. Dikira Rama dan Sinta rumah tangga itu seperti di negeri dongeng Ramayana. Apa-apa bisa berkecukupan bak raja dan ratu, sementara orang-orang di sekitar hanya dianggap pelayan atau mungkin babu. Padahal semasa belum menikah dan tinggal di kampung mereka sungguh tak begitu.
Ketiga Ibu-Ibu itu pun tahu betul bagaimana kelakuan Rama yang di akhir kisahnya memutuskan bercerai dari Sinta dan memutuskan menjadi TKI di Jepang.
“Sekarang sudah 2 tahun di Jepang ya. Tapi masih belum bisa balikin nasib orang tuanya.” Lanjut ghibah dari Bu Halimah.
“Iya Bu. Kasian kalo liat Rama. Padahal dulu dia kan anak baik-baik dan nggak pernah neko-neko.” Ucap Ibunya Arkham sembari mengamati sayur kacang di kantong belanjaan Ibunya Asiyah.
“Itulah pentingnya pendidikan karakter, Bu. Sekarang banyak anak yang keliatan baik-baik, tapi watak aslinya masih abu-abu, bisa berubah sewaktu-waktu.” Jelas Ibunya Aisyah yang memang masih muda dan paling berpendidikan diantara ketiganya.
“Mungkin sebenernya bisa dicegah. Karena Rama sedari awal kerja saja udah mulai keliatan gelatnya ingin mewah-mewahan.” Bu Halimah yang cukup kenal dekat dengan orang tua Rama berpendapat. “Beda sama Ar yang kerja udah lama tapi tetep sederhana, malah fokusnya pasti bantu keluarga.” Lanjutnya.
“Kalo Ar sih kelewatan kalo udah sama keluarga, apa aja di perhatiin. Sampe sama adik-adiknya sering dipanggil Ayah.” Jelas Ibunya Arkham yang masih memperhatikan sayur kacang di kantong belanjaan Ibunya Asiyah. “Kalo liat sayur kacang, kok jadi inget Ar ya yang sama sekali nggak doyan.” Ungkapnya mengubah topik pembicaraan.
“Tuh Aisyah dengerin! Mas Ar nggak doyan sama sayur kacang.” Goda Bu Halimah yang sepertinya memperhatikan tingkah gadis itu ketika mendengar nama Arkham disebut di tengah obrolan.
“Aisyah kan terkenal dan banyak yang naksir. Emang mau sama Ar dan jadi mantu Ibu?” Imbuh Ibunya Arkham menanggapi pertanyaan Bu Halimah.
“Kan Mas Ar nggak mau sama perempuan yang satu desa, Bu.” Jawab Aisyah malu-malu.
Dari peristiwa ini timbul rencana dari Ibunya Arkham untuk mengerjai hati putra sulungnya.
“Ini nasi berkat dari siapa, Bu. Perasaan tetangga lagi nggak ada yang hajatan?” Tanya ayahnya Aisyah ketika baru saja ke dapur melihat nasi berkat yang masih kumplit sudah disajikan di meja makan.
“Oh, itu dari Nak Ar tadi, Yah.” Jawab ibunya Aisyah setengah berteriak dari ruang tengah sembari menyetrika.
“Emang lagi ngadain apa? Apa mungkin selamatan buat acara besar? Arkham mau nikah?”
“Bukan! Itu selamatan buat renovasi rumah orang tuanya sama pondasi rumah sendiri, Yah.”
“Pondasi rumahnya Ar, Bu? Tapi tumben selamatannya sampe sini.” Mengingat jika rumah orang tua Aisyah dan Arkham memang cukup jauh, meski masih satu wailayah desa membuat ayahnya Aisyah heran karena biasanya jika hanya hajat kecil selamatannya memang tak pernah sampai.
“Tadi Aisyah yang lagi main di rumah Khalila di titipin sama ibunya, Nak Ar. Mungkin gara-gara kemarin ketemu sampai ngobrol lama di warung jadi merasa deket kali.”
“Sekarang Khalila jadi jarang ke rumah kita ya, Bu. Malah Aisyah yang jadi sering main kesana sampai nginep.” Sejak peristiwa malam rapat 17an, Aisyah memang jadi sangat sering bermain di rumah Khalila.
***
“Setelah putus dari Arlina, sekarang Mas Ar putus lagi sama pacarnya, Syah.” Khalila mengabarkan.
“Iya..aku udah tau, La.” Aisyah sedang membaca buku resep aneka kue, duduk di samping Khalila.
“Tapi aku akhirnya juga denger, Mas Ar itu paling anti, Syah sama perempuan yang satu desa, kamu masih tetep mau kayak gini terus?” Tanya Khalila yang sedang mengkhawatirkan sahabatnya yang sudah sangat lama tidak bisa membuka hatinya untuk pria lain.
Aisyah meletakan buku ke meja, “Aku sekarang lagi fokus karir dulu, La.. nggak mau buat berpikir kesitu.“ Aisyah bangkit dari duduk dan memasukan buku yang tadi dibacanya ke dalam tas.
“Tapi mau sampai kapan, Syah?” Ucap Khalila melihat sahabatnya pergi.
3 tahun telah berlalu semenjak pesan pertama dari Arkham yang membuat Aiyshah menolak siapa pun pria yang mendekatinya. Selama tiga tahun itu, Aisyah hanya hidup dengan bayang-bayang Arkham, mendengar namanya disebut disana-sini tanpa pernah melihatnya, tanpa pernah bertemu langsung dengan pria yang telah berhasil mencuri hatinya.
3 tahun juga Arkham melewati masa dengan kekasihnya, Arlina cinta pertama dan Fiana cinta yang beristirahat dan menjadi rahasia. Kini tersiar kabar jika pria itu telah kembali sendiri tanpa ada wanita di sampingnya.
Ini adalah tahun pertama di masa kesendirian Arkham selepas kepergian Fiana.
Pagi ini Aisyah sedang menemani Ibunya berbelanja di pasar tradisional membeli banyak keperluan untuk kebutuhan bulanan.
“Dua kantong ini bawa dulu, Syah! Taruh di motor, nanti kamu tunggu di parkiran aja ya.” Titah Ibunya pada Aisyah yang kemudian dijawab,
“Baik Bu.”
Aisyah berjalan keluar dari kerumunan pasar menuju parkiran motornya. Dari kejauhan dia melihat sosok pemuda yang sangat tidak asing baginya.
“Mas Ar.” Batin Aisyah melihat langsung sosok nyata pria itu.
Comments
Post a Comment