Jam Terbang

Setiap pemuda memiliki cita-cita yang ingin diwujudkannya, juga cinta yang ingin dirasakan demi kebahagiaannya. Sama juga dengan Arkham, pemuda sederhana yang menjalani kehidupan di desanya. Ia berusaha agar secepatnya menjalankan cita dan cintanya diusianya yang baru beranjak dewasa. Kisah dari Arkham akan menjelaskan betapa pentingnnya memiliki kesedaran diri sejak dini akan tanggungjawab hidup demi masa depan dan demi orang-orang tercintanya.

 

LULUS SEKOLAH

 

Ketika itu, siswa SMA dan SMK di Kebumen sedang merayakan acara kelulusan. Sangat meriah, di jalan raya, di alun-alun, di pinggiran toko perkotaan dilewati pawai seragam putih abu dengan coretan penuh warna.

 

Tidak seperti siswa lainnya, Arkham si pemuda lugu justru sedang duduk termangu di halaman rumahnya.

 

"Hai Ar!" Sapa Ilyas, teman sekelasnya yang baru saja pulang dari acara kelulusan. "Kamu nurut sekali ya, ngga ikut acara kelulusan." Singgungnya.

"Merasa aneh aja kalo aku ikut-ikutan." Jawab Arkham.

"Ar, ngomong-ngomong setelah lulus kamu mau langsung kerja apa kuliah?"

"Aku ada saudara, dia sudah merantau Yas. Aku ditawarin buat kerja di tempat saudaraku."

"Jadi kamu mau langsung kerja?"

"Ngga juga, di tempat saudaraku itu ada lowongan kerja kira-kira 6 bulan lagi. Katanya ada operator admin yang mau habis kontrak."

"Kamu mau ngelamar jadi admin?"

"Iya, tapi syaratnya ngelamar jadi admin disana harus punya sertifikat kursus komputer."

"Sertifikat komputer? Bukannya sudah ada di sekolah kita? Lagian kalo soal komputer kamu juga udah mahir, kalo cuma buat admin kan cuma butuh ketrampilan office doang."

"Ini sertifikatnya harus dari tempat kursus mandiri di luar sekolah. Katanya, biar kemahirannya bisa lebih bisa dipertanggungjawabkan."

"Terus kamu mau les komputer? Dimana?"

"Belum tau!"

"Loh, kok belum tau. Kamu mau les komputer yang deket apa yang jauh?"

"Kamu kenal deket sama Aisyah ngga Yas? Aku denger kakaknya Aisyah pernah les komputer di sekitar Gombong. Denger-denger les disana bisa pilih berapa lama waktu yang mau diambil dan udah dapet sertifikat."

"Kalau Aisyah sih, nomernya aku juga punya. Nih, aku kasih gratis buat kamu. Sekalian PDKT aja sama Aisyah, katanya dia baru putus dari cowonya loh."

"Ah, kamu Yas. Aku belum pantes mikirin yang kaya gituan. Aku masih harus fokus buat masa depan."

"Ar...Ar... Nih, nomor Aisyah." Ilyas menyodorkan ponselnya. "Jangan terlalu lugu gitu dong Ar, nanti kamu nyesel! Masa muda yang harusnya buat seneng-seneng, malah kamu buat serius terus kaya gitu." Ujar Ilyas.

 

Malam hari di rumahnya, Arkham langsung memulai chat dengan Aisyah, menyatakan keperluannya pada kakak Aisyah. Dalam situasi itu, Arkham pun berpikir mengingat perkataan Ilyas di akhir obrolan mereka. Ia juga mulai berharap pada dirinya agar segera mendapatkan pacar agar bisa hidup senang seperti teman-temannya. Namun, dia tidak menujukan pandangannya pada Aisyah, karena Aisyah adalah tetangga jauh di desanya. Arkham selalu menganggap tetangga di desanya sebagai saudara, itu sebabnya ia sama sekali tidak menaruh hati, meski Aisyah adalah kembang di desanya.

***

 

MEMULAI LES KOMPUTER

 

Setelah bertemu dengan kakak Aisyah dan menyatakan keperluannya, Arkham memulai kegiatan les komputernya di FOC (Founder Office Course). Arkham mengambil paket dengan lama waktu 3 bulan. Setiap satu bulan, Arkham akan diberikan tes uji materi di hari ke 30. Dengan lama waktu 3 bulan, itu artinya semua materi yang ada di FOC harus sudah ia kuasai hanya dalam waktu 3 bulan saja.

 

Les komputer selalu dimulai pada tanggal 1 setiap bulannya. FOC baru buka pukul 8 pagi, tapi di hari pertamanya Arkham berangkat lebih awal. Jam baru menunjukan pukul 7.30, Arkham sudah tiba di depan gerbang FOC. Pintu gerbang masih tertutup, tapi disana juga sudah ada orang yang menunggu. Nampak perempuan cantik dengan jilbab putih, ia tersenyum tepat sesudah kedatangan Arkham.

 

"Mau les di sini juga ya Mba?" Tanya sapa Arkham setibanya di depan gerbang FOC.

"Iya Mas."

"Baru, atau sudah lama?"

"Apanya Mas?" Tanya balik perempuan itu dengan sedikit memandang wajah Arkham yang terlihat gugup.

"Maksudnya, les disini masih baru apa sudah lama Mba?" Menghela nafas sejenak, Arkham mencoba memperjelas pertanyaannya.

"Baru Mas." Jawab perempuan itu kemudian.

 

Waktu berjalan cukup hening setelah jawaban terakhir yang singkat dari perempuan itu. Sampai kemudian jarum jam menunjuk pukul 07.55, salah satu dari 3 pegawai FOC datang membukakan gerbang. 15 menit kemudian, baru ada 5 orang lain yang datang, 2 laki-laki dan 3 perempuan. Kelima orang itu juga baru akan memulai les di FOC. Arkham dan teman-teman lesnya mulai dibriefing untuk memperkenalkan tempat les dan aturan-aturan yang ada di dalamnya.

 

"Jadi, apa sudah jelas mengenai aturan yang ada di FOC ini temen-temen?" Tanya salah satu pegawai sesudah menjelaskan tentang apa saja peraturan les di FOC.

"Waktu les dimulai shift 1 jam 8 pagi sampai 12 siang, shift 2 mulai jam 2 sampai jam 5 sore. Sabtu-Minggu libur. Kita dibebaskan untuk datang kapan saja selama di waktu aktif tersebut. Apa itu tidak merugikan orang-orang yang berangkat seenaknya Pak?" Tanya salah satu teman seangkatan Arkham.

"Itulah bedanya instansi sekolah dengan tempat les mandiri. Disini, kalian akan diberi kebebasan penuh untuk memikirkan apa yang baik dan apa yang tidak baik untuk diri kalian. Dan kalian juga harus siap dengan segala resikonya. Jika kalian tidak serius untuk les disini, kalian akan lama lulusnya. Dan paket waktu yang kalian ambil akan terbuang sia-sia." Salah seorang pegawai FOC, Rudi menjelaskan.

"Tapi buktinya disini ada banyak yang hanya mengambil paket 3 bulan. Rata-rata dari mereka hanya menghabiskan tidak lebih dari 2 jam tiap harinya di tempat les ini. Dan mereka selalu lulus di setiap ujian akhir bulan." Imbuh Rudi. Seperti Mas Arkham misalnya, Mas mengambil paket 3 bulan kan?" Pak Rudi bertanya pada Arkham.

"Benar Pak, biar lebih cepat lulusnya." Arkham menjawab.

 

Setelah briefing, peserta les yang sudah senior mulai bermunculan. Ada sekitar 30 peserta les di FOC. Dengan hanya 3 pegawai disana, FOC selalu bisa mempertahankan kualitasnya sebagai tempat les komputer terbaik di Gombong terutama untuk program office-nya.

***

 

PENDEKATAN

Hari pertama les komputer telah dilalui Arkham. Disana, Arkham dan teman-temannya baru diberi pengarahan dan dijelaskan pokok-pokok materi apa saja yang harus dipelajari di FOC. Di hari kedualah Arkham baru akan memulai aktifitas les yang sebenarnya.

 

Di hari keduanya Arkham berangkat lebih siang dari sebelumnya. Pukul 8 pagi, Arkham baru akan berangkat dari rumahnya. Membutuhkan sekitar 15 menit dengan motor untuk sampai ke FOC. Kali ini Arkham datang paling akhir diantara 6 teman les seangkatannya.

 

Arkham mulai mengambil buku materi yang sudah dibagikan di hari pertama. Materi yang mencangkup pembahasan office selama 1 bulan.

 

Kurang dari 1 jam Arkham belajar di mejanya. Ia terlihat sedang berkemas dan sepertinya dia akan pulang. Tiba-tiba seorang perempuan mendekati Arkham, perempuan yang duduk dua baris di depan mejanya.

 

"Mas udah selesai? Bisa minta tolong sebentar ngga?" Ternyata perempuan itu adalah si jilbab putih yang pertama kali bertemu Arkham di depan gerbang.

"Minta tolong?" Tanggap Arkham.

"Ini Mas, aku mau nanyain soal materi ini. Mau nanya langsung ke pegawainya ngga enak. Aku sekolah di SIE (Sekolah Ilmu Ekonomi), tapi rumus-rumus operasi dasar excel kaya gini masih belum paham." Mohon perempuan itu sambil menunjukan buku materinya.

"Oh, materi ini?" Jawab Arkham pertanda menyanggupi.

"Minta tolong ya Mas, ngga buru-buru kan?"

"Iya, santai! Langsung ke meja kamu aja biar bisa langsung praktek, komputerku udah dimatiin."

 

Arkham kemudian langsung beranjak ke meja perempuan itu. Cukup lama, ia yang awalnya akan pulang pada pukul 10.00, kemudian baru keluar dari FOC pukul 11.00.

 

"Terima kasih ya Mas udah mau bantuin. Jadi pulang siang deh."

"Iya ngga papa, lagian di rumah juga ngga ngapa-ngapain kok."

"Mas berangkat sekolah siang? Apa udah lulus?"

"Aku udah lulus! Kamu?"

"Aku masih sekolah Mas. Ni, habis ini pulang ke rumah bentar langsung berangkat."

"Wah iya, kata temenku yang les disini banyak yang masih sekolah. Aku malah udah lulus baru les."

"Emang Mas dulunya sekolah dimana?"

"Di SMK 2 jurusan mesin."

"Eh, kita belum kenalan. Nama Mas, Arkham kan?" Perempuan itu mengulurkan jabat tangannya.

"Kok udah tau namaku Mba? Nama Mba siapa?" Sahut Arkham sambil menjabat tangan perempuan itu.

"Aku Arlina Mas. Kan nama Mas sempet disebut pegawai pas kemarin briefing."

"Oh iya! Mba tinggal deket sini?"

"Jangan panggil Mba lah Mas, panggil Lina aja, kan kita udah kenalan! Tinggalnya..agak jauh dari sini sih."

"Lina ya? Kalo gitu Mba panggil aku nama aja, Arkham ya!"

"Jangan lah Mas, ngga sopan! Aku kan lebih muda dari Mas."

"Jadi aku udah tua ya?" Ucap Arkham sembari berpikir.

"Bukan begitu maksud aku Mas! Ahh..ya udah, udah siang aku mau pulang, tapi sebelumnya boleh minta nomor HP kamu ngga Mas?"

"Aku kan cowo, harusnya aku yang minta nomor HP sama kamu!" Arkham mulai terlihat percaya diri.

"Nih nomor aku." Lina menunjukkan nomor HP-nya.

"Sudah aku save, Itu nomor aku!" Arkham mengirim pesan pemberitahuan pada Lina.

***

 

GELISAH

 

"Hari kedua kemarin Ju'mat, sekarang hari Senin. Tadi Lina ngga berangkat, kemungkinan dia sekarang sekolah pagi. Apa dia berangkat les sore ya?" Bisik Arkham dalam hatinya.

 

"Ar! Lagi ngelamunin apa? Serius amat!" Tegur Bima membuat Arkham kaget.

"Eh, Bim..Engga! Kamu baru ikut psikotes kerja ya? Gimana hasilnya?"

"Ahhh..jangan pura-pura! Pasti udah mulai mikirin cewe kan?" Bima menyindir. "Kalo aku, tesnya belum ada pengumuman Ar."

"Hahh...cewe apaan? Ngga ada juga!" Arkham mencoba menutupi.

"Jangan ngilang-ngilangin gitu! Ntar ilang beneran baru tau rasa! Tuh..siapa si Lina?"

"Wah, pasti Ilyas ya...ember emang!"

"Emang kaya apa si Ar cewenya?" Tanya Bima penasaran. "Tenang, aku ngga temen makan temen kok."

"Cantik lah..namanya juga cewe."

"Emang ketemu kapan?"

"Udah dari dua hari kemarin."

"Dua hari kemarin di tempat les, tadi kamu berangkat. Aku tebak...berarti tadi dia ngga.. Hahhahaa! Jadi kamu gelisah kaya gini gara-gara itu...Aaaarr..Ar." Bima meledeki Arkham.

"Iya Bim, ternyata nyimpen perasaan sama perempuan ngga enak ya."

"Awas! Ada saingan! Kalau kamu emang suka harus cepet biar ngga keduluan." Bima berujar.

"Jangan lah Bim! Masih terlalu awal..kenal aja baru 2 hari."

"Terlalu awal? Berarti besok-besok masih ada kemungkinan kan? Kamu punya kontaknya ngga?"

"Punya Bim."

"Wah hebat juga kamu Ar, baru kenal 2 hari langsung dapet kontak nya."

"Dia yang minta duluan Bim."

"Wuiiihhh..beruntung kamu Ar! Yaudah nunggu apa lagi? Langsung telpon aja! Dia udah minta kontak duluan, masa dia juga yang nelpon duluan?"

"Ngga berani aku Bim..ngga enak, takut ganggu."

"Kamu Ar, polosnya ngga sembuh-sembuh, payah!" Bima menyesalkan sikap Arkham yang selalu merasa tidak enak kepada orang lain.

 

Sejak kecil hingga tumbuh dewasa, Arkham memang dikenal sebagai sosok yang lugu dan pendiam oleh teman-temannya. Tapi bukannya dia pendiam sepenuhnya, sama sekali bukan! Ia hanya tidak pandai dalam mengendalikan dirinya menghadapi situasi. Terlebih untuk hal-hal baru, termasuk untuk Arlina, perempuan cantik yang baru dikenalnya.

***

 

KEMBALI BERTEMU

 

"Yas, besok kita pergi ke pantai ya..hari Minggu pasti ramai." Ajak Arkham pada Ilyas.

"Udah ada cewe masih ajak aku aja Ar?" Ilyas menyindir.

"Cewe apaan?"

"O iya, baru ketemu 2 hari udah ditinggal, kasiaaaann." Ledek Ilyas.

"Udah lah Yas, serius nih..mau ngga? Ajak Bima sekalian."

"Kalo Bima paling kencan. Kalau aku udah ada pacar juga..wah, bisa mati kesepian kamu Ar."

"Enak aja..sebelum kamu punya pacar, aku udah nembak Lina duluan!"

"Kapan...woy! Kapaaaann? Chat duluan aja ngga berani."

"Semua ada prosesnya lah Yas."

"Proses aja terus ngga jadi-jadi. Awas ati-ati kamu Ar..cewe cantik itu kaya mie instan."

"Loh..kok mie instan?"

"Kalau sampai dia ketemu sama cowo pemberani, udah cepet tuh matengnya, langsung dimakan..hahhahaa."

"Dasar kamu Yas..terus gimana dong?"

"Kamu udah dikodein kaya gitu..tinggal chat duluan susah amat."

"Takutnya aku yang ke ge-eran..kalo ternyata dia ngga ada rasa apa-apa sama aku gimana?"

"Kamu terlalu penakut Ar..dia udah berani duluan minta kontakmu loh, masa kamu ngga peka. Dia itu pura-pura ngilang biar kamu nyariin."

"Ngilang sampe ngga berangkat les? Kalau bener dia pura-pura cuma buat kodein aku, kasian orangtuanya yang biayain tau Yas."

"Naif banget kamu Ar..dimana-mana cewe yang lagi usaha ke cowo kan emang gitu..pura-pura lari biar dikejar."

"Ahh, engga juga Yas..pokoknya aku ngga bakalan chat sampe dia balik berangkat les."

"Terserah kamu lah Ar..saran aja kalau kamu ketemu cewe, terus kamu liat di sikapnya ada yang kurang baik, jangan langsung dijauhin. Kan di agama kita diajarin, kalau kita mampu membimbing orang-orang yang belum baik menjadi lebih baik itu pahalanya besar." Ilyas menyarankan.

 

Sebagai anak pertama dari 3 bersaudara Arkham memang cenderung kritis dalam berbagai macam hal. Mengemban kepercayaan orangtua dan tanggungjawabnya sebagai anak adalah hal paling utama yang selalu dia pikirkan. Al hasil, dalam memilih pasangan pun dia selalu menimbang-nimbang sebelum bergerak lebih jauh mendekati perempuan yang disukainya.

 

"Sore-sore di pantai begini bukannya sama cewe malah sama kamu ya Ar..nasiiib-nasib." Umpat Ilyas.

"Makannya cari pacar sana..jangan sampe kamu yang keduluan! Aku jadian sama Lina baru tau rasa kamu!"

"Awas aja kalo aku udah kerja Ar..Aku udah interview, tinggal nunggu pengumuman, medical..udah berangkat! Kamu mah mending ngga usah deket-deket aja sama cewe, fokus biar lesnya cepet lulus!"

"Bener juga kamu Yas..makannya kamu jangan ngejerumusin aku buat cari pacar melulu!"

 

Hari Minggu telah berlalu dan Senin telah tiba, seperti biasanya Arkham tiba di FOC untuk kembali melakukan rutinitas lesnya. Terlihat dua baris di depan mejanya, perempuan yang sudah bebarapa hari terakhir ditunggu-tunggu Arkham. "Lina, akhirnya hari ini kamu berangkat." Ucap Arkham di hatinya.

***

 

PURA-PURA PACARAN

 

Arkham kembali melihat Lina, dua baris di depan mejanya. Menyadari kedatangan Arkham, Lina sengaja tidak menyapanya. Hingga pukul 11 tiba, Lina membereskan meja belajarnya dan segera menuju keluar.

 

Sesaat kemudian Arkham pun berkemas, dia pergi juga menyusul Lina. Lina sedang duduk di sofa Lobby FOC, kemudian Arkham menghampirinya.

 

"Hei Lin..ngga langsung pulang?" Tanya Arkham pada Lina.

"Eh Mas Ar, engga Mas, lagi nungguin Mas." "Nungguin aku?"

"Iya Mas, mau ada perlu sebentar."

"Kemarin kamu ambil les shift 2 ya?"

"Mas inget ya..kalo Minggu kemarin aku masuk sekolah pagi?"

"Iya."

"Aku berangkat sore cuma sekali Mas..disitu aku bingung gimana buat belajar komputernya. Mau nanya temen yang lain ngga enak, mau hubungin Mas takut sibuk."

"Ya ampun Lin..apa kamu minta kontak kemarin biar sewaktu-waktu bisa minta bantuan? Kalo butuh bilang aja Lin..ngga papa."

"Aku ngga enak Mas, kita kan baru kenal. Ya, sebenernya aku minta kontak Mas kemarin biar bisa hubungin Mas, siapa tau Mas bisa diajak shift-2 biar aku ada yang ngajarin."

"Yaudah, besok-besok kalo ada perlu bilang aja ya."

"Mas, aku bilang sekarang aja ya?"

"Jadi perlunya sekarang? Kamu berangkat sekolah sore kan?"

"Bukan sekarang..gini loh Mas..anggaplah aku kan udah seminggu ngga berangkat les. Sekarang udah masuk Minggu ketiga, tinggal 1 Mingguan lagi tes kelulusan bulan pertama. Aku takut belum siap."

"Terus?"

"Kalo mas bantu aku mau ngga? Sabtu-Minggu besok kalau Mas ada waktu."

"Bantu?"

"Ngajarin materinya loh Mas."

"Sabtu-Minggu ya?"

"Tolong Mas, pleeeeasse!"

"Ya..boleh."

 

Di hari-hari berikutnya Arkham dan Lina semakin akrab. Terlihat Arkham seringkali berada di meja belajar Lina. Hal itu membuat teman-teman di FOC ingin agar Arkham tidak hanya mengajari Lina, tapi juga mengajar teman-temannya yang lain.

 

Akhir pekan telah tiba dan sesuai permintaan Lina, Arkham menuju ke sebuah tempat yang sudah dibuat janji oleh mereka berdua untuk belajar bersama.

 

"Jadi disini ya Lin, aku baru tau tempat ini loh."

"Mas kaya cowo yang ga pernah keluar rumah, masa tempat nongkrong disini aja ngga tau."

"Aku kan emang anak rumahan..kenapa? Nyesel pergi berdua sama anak rumahan kaya aku?"

"Mulai deh..Mas kebiasaan sekarang suka ngambek."

"Bercanda Lin..ayo langsung kita mulai belajar materinya."

"Bentar Mas, ada yang mau aku omongin."

"Apa yang mau diomongin?"

"Sekarang di tempat les, Mas sering mondar-mandir ngajarin temen..Mas pasti capek." Lina menunjukkan perhatiannya. "Ma'af ya Mas, semua gara-gara aku."

"Kamu ngomong apa sih Lin..aku ngga papa kok."

"Mas..ihhh kebiasaan, suka anggap remeh sama beban yang ada sama Mas."

"Yaaahh..emang capek siii..tapi mau gimana lagi? Itu kan demi kamu. Kalau aku komplain ke pembimbing soal temen-temen yang minta diajarin sama aku, nanti mereka jadi tersinggung. Apalagi kalo aku ngajarinnya cuma kamu doang, ntar dikira aku ada apa-apa lagi sama kamu."

"Iya sih Mas, tapi persoalan ini harus cepet ada solusinya. Kalo terus dibiarin, kasian Masnya."

"Solusi? Emang ada?"

"Ada lahh.."

"Apa coba?"

"Gimana kalo Mas pura-pura pacaran aja sama aku?”

***

 

ATURAN MAIN

 

"Lin, kamu demam ya?" Menanggapi solusi Lina, Arkham berusaha menampilkan dirinya agar terlihat jenaka. Dalam hatinya, Arkham sebenarnya tersentak kaget, tak tau harus bahagia atau cemas mendengar permintaan Lina untuk berpura-pura menjadi pacarnya.

 

"Ih..dasar Mas, aku lagi serius."

"Jadi serius nih Lin, aku pura-pura jadi pacar kamu? Emang kamu mau pura-pura jadi pacar aku?"

"Pasti mau lah Mas..Mas kan baik, udah gitu pinter. Dan keliatannya Mas juga punya rasa tanggungjawab yang tinggi."

"Udah cukup Lin, bajuku jadi sesak nih."

"Ahh..Mas bercanda melulu."

"Iya-iya aku mau..apa tadi? Pura-pura jadi pacar kamu?

"Iya Mas Arkham pacarku, eh, Mas pacar pura-puraku." Sahut Lina tersenyum.

"Tapi Lin, misal mereka udah nganggap aku pacar kamu, toh aku tetep ngga bakal bisa ngelarang-ngelarang mereka buat minta diajarin."

"Aku udah berpikir kesitu kok Mas. Aku kan paham gimana sifat Mas Ar."

"Kalo gitu gimana?"

"Tenang Mas, soal ngelarang-ngelarang biar Lina aja. Kan setau mereka Lina pacar Mas, jadi pasti mereka bakal maklumin kan."

"Cerdas kamu Lin."

"Siapa dulu dong...pacar pura-pura Mas Arkham."

 

Pertemuan Arkham dan Lina ini membuat Ilyas bertanya-tanya kemana perginya sahabat karibnya itu, karena tak biasanya di akhir pekan Arkham tidak menghubungi Ilyas ataupun Bima.

 

"Tumben Bim, si Arkham hilang gada kabar." Ilyas merasa heran.

"Kamu udah tanya dia dimana?" Sahut Bima.

"Belum, kan biasanya dia yang sering nanya duluan. Kalo ngga ke aku ya ke kamu."

"Apa jangan-jangan dia udah...."

"Maksudmu jadian Yas?"

"Mungkin."

 

Di taman, Arkham dan Lina masih melanjutkan obrolannya.

 

"Terus aturan mainnya gimana Lin?"

"Gampang banget Mas. Mas tinggal anter jemput aku pulang buat ngeyakinin mereka kalo kita udah jadian."

"Anter-jemput? Berarti aku harus jemput ke rumah kamu? Bohongin orang tua ngga baik loh Lin."

"Ngga gitu lah Mas..aku kan bisa titipin motorku di alun-alun, disana jarak buat ke tempat les kan masih lumayan jauh."

"Jadi tar aku jemput kamu di alun-alun? Udah kaya di sinetron-sinetron aja Lin, pura-pura pacaran sampai main sembunyi-sembunyi kaya gitu."

"Pleeeeesse ya Mas..aku minta tolong."

"Iya iya..apa sih yang ngga buat pacar pura-pura aku. Gimana kalau sekarang kita mulai belajarnya!"

***

 

ANTARA WASPADA DAN PRASANGKA

 

"Akhirnya aku jadian juga Yas, biarpun cuma pura-pura." Arkham menceritakan perkembangan hubungannya pada Ilyas.

"Kamu ini Ar..pasti yang ngajak jadian si Lina ya?"

"Iya Yas..kok kamu tau?"

"Asal nebak aja..aku juga menebak kalo Lina nglakuin itu biar kamu peka dan respon ke dia."

"Jujur ya Yas, sebenernya aku paham yang dimaksud Lina. Tapi aku belum bisa ngejalaninnya, aku belum sepenuhnya mengenal Lina."

"Ar, soal kenal-mengenal kan bisa sambil jalan. Emang Lina masih kurang apa sih buat kamu?"

"Ma'af ya Yas, ini jadi ngebicarain kekurangan orang. Aku lebih ke merasa heran tiap kali liat Lina sedang belajar. Dia udah kelas 11 dan bentar lagi naik kelas 12 di SIE, tapi masih banyak materi-materi dasar ekonomi yang dia ngga tau. Malah aku yang ngajarin dia pake buku ekonominya, padahal aku kan anak mesin."

"Kamu aja yang terlalu pinter kali Ar.."

"Engga lah Yas, ini materi dasar..yang aku liat anak-anak yang sepantaran Lina emang udah paham."

"Apa dia pura-pura ya Ar, biar bisa deket sama kamu?"

"Nah, itu yang aku takutin..kalo baru diawal aja sandiwaranya udah kaya gitu gimana nanti?"

"Tapi kalo diliat-liat dia orangnya baik kok Ar..dan kayanya dia tulus suka sama kamu."

"Apa aku coba ajak jadian beneran aja ya Yas..kata Bima kalo udah pacaran, kita bakal lebih gampang buat tau yang sebenernya dari pasangan kita."

"Kalau yang sebenernya Lina emang ngga sesuai sama mau kamu gimana?"

"Yaaaaa...putus."

"Waaaahhh...mulai main api kamu Ar, udah mulai akut ketularan Bima nih."

 

Sudah lebih dari sebulan Arkham menjalani pacaran pura-puranya dengan Lina. Dan Arkham masih merasa belum bisa mengenal siapa Lina sebenarnya.

 

"Akhirnya mas sampai juga." Sambut Lina ketika Arkham datang menjemputnya di parkiran alun-alun.

"Ini kan masih terlalu pagi..kita cari sarapan dulu ya Lin! Kamu udah sarapan belum?"

"Baru makan kue aja Mas."

"Jadi mau nih?"

"Iya..emang mau makan dimana?"

"Biasanya orang diajak makan minta traktir loh Lin..kamu ngga mau?"

"Kalo Mas mau traktir bilang lah Mas, main kode-kode gitu."

"Yaudah..jadi aku traktir mau ya?"

 

Arkham dan Lina lantas pergi ke warung makan.

 

"Lin, kita jarang ya pergi makan-makan kaya gini."

"Iya Mas."

"Apa itu gara-gara pacarannya yang masih pura-pura ya?"

Lina yang sedang minum tersedak mendengar apa yang diucapkan Arkham, "Mas bikin aku kaget aja."

"Loh, kenapa kamu Lin?" Tanggap Arkham sambil memberikan tisu ke Lina.

"Engga Mas..maksud perkataan barusan itu loh."

"Ah..cuma berangan-angan aja kok."

"Kalo beneran iya juga ngga papa Mas."

"Iya..?"

"Beneran."

"Kamu mau pacaran beneran sama aku?"

Lina tersenyum pertanda menerima Arkham sebagai pacar sungguhannya.

***

 

MERUBAH SIKAP

 

"Jadi gitu ya Bim...aku harus merubah sikap biar Lina lebih ngerasa bebas deket sama aku?" Arkham sedang menanggapi saran dari dua sahabat karibnya, Ilyas dan Bima.

"Iya dong Ar..kalo sikap bawaan kamu waspada terus, Lina pasti canggung buat nunjukin jati dirinya ke kamu."

"Ar..kamu harus simak baik-baik tuh petunjuk master cinta, Bima."

"Iya Yas, pengalamanku masih belum seberapa kalo dibanding Bima."

"Kalo denger ceritamu, keliatannya Lina sejak awal emang udah cukup berani buat manja-manja sama kamu. Buat Lina lebih nyaman lagi Ar..biar dia lebih leluasa menyampaikan semua keinginannya."

"Apa aku harus lebih perhatian?"

"Lebih tepatnya...kamu harus lebih besar melakukan pengorbanan. Buat dia merasa kalo kamu emang udah benar-benar jadi budak cintanya."

"Dasar para BUCIN."

"Sabar Yas, nanti juga tiba giliran kamu. Minggu depan kamu kan udah mau berangkat."

"Iya Yas, aku malah gagal melulu di interview nih. Gimana sih tips biar lulus interview?".

"Tipsnya..jauhi BUCIN dekati kesepian..hahhaa."

"Itu mah kamu Yas." Arkham menimpali.

 

Menerima saran dari Bima, Arkham mencoba ingin tau lebih banyak tentang Lina. Ia stalking media sosial Lina dan menemukan tanggal lahir Lina, "Kebetulan sekali ya..bulan ini bulan lahir Lina." Bisiknya.

 

Dengan uang jatah bulanan yang diberikan orangtuanya, Arkham berencana mencari kado ulang tahun untuk Lina. Ia mencoba mencari-cari kado apa yang paling pas dan juga sangat diinginkan kekasihnya itu. Sampai kemudian hari dimana Lina merayakan ulang tahunnya pun hampir tiba.

 

"Jadi kamu cuma mau ngrayain ulang taunmu sama kita-kita aja nih Lin..terus gimana sama Mas Ar-mu itu." Singgung Ines, teman dekat Lina.

"Kayanya aku sama Mas Ar ngga akan ngrayain apa-apa deh Nes. Dia orangnya terlalu teguh sama prinsipnya. Dan dia bukan tipikal orang yang suka buang-buang waktu buat seneng-seneng, apalagi hambur-hamburin uang."

"Bukannya dia anaknya orang berada Lin."

"Iya sih..tapi dia mandiri banget loh orangnya. Kayanya ngga mungkin dia sampe make uang orangtua diluar keperluannya. Kan tau sendiri dia masih belum kerja."

"Tapi kamu pacarnya loh Lin. Harusnya dia berusaha lah buat bikin kamu seneng."

"Eh ada telpon Nes."

"Mas Ar?"

"Iya..bentar ya Nes."

 

Lina menerima telpon Arkham dan menerima ajakan untuk pergi ke tempat yang masih dirahasiakan.

 

"Dia bicara apa Lin?"

"Aku diajak pergi besok, tapi aku belum tau mau kemana."

"Jangan-jangan dia mau..."

"Engga lah Nes..aku ngga mau terlalu ngarep, takut kecewa."

***

 

DATANG DAN PERGI

 

"Ati-ati di jalan..cepet dapet momongan Yas, eh..pacar maksudnya." Dengan candaanya Arkham menyampaikan kata-kata perpisahan pada Ilyas yang akan berangkat ke luar kota.

"Cepet nyusul ya Ar, jangan pacaran melulu." Sahut Ilyas.

 

Setelah mengantar Ilyas ke terminal Arkham pulang, tapi sebelum sampai ke rumahnya ia mampir dulu ke rumah Bima.

 

"Busnya udah ada Ar?"

"Udah standby di terminal."

"Jadi Ilyas udah berangkat?"

"Udah Bim, jadi sepi nih."

"Kan kamu udah punya Lina Ar."

"Namanya pacar sama temen ya tetep beda lah Bim, emang kamu ngga ngrasain?

"Iya juga sih. Eh..gimana kado yang dikasih ke Lina kemarin?"

"Cocok Bim, Lina keliatan seneng banget."

"Dia seneng sama kadonya, apa seneng karena yang ngasih itu kamu?"

"Ngga tau sih Bim..tapi yang aku liat di ekspresinya dia bener-bener seneng."

"Syukurlah..gimana menurutmu Lina sekarang."

"Kalo aku nilai..secara sikap Lina sih baik. Tapi buat gaya hidup dan kebiasaannya dia terlalu manja. Maklum lah anak terakhir."

"Emang saudara Lina ada berapa si Ar?"

"Tiga, dua kakaknya udah nikah. Satu kakaknya lagi baru kerja."

"Yang baru kerja itu cewe bukan Ar?"

"Cowo Bim..kalo cewe mau kamu embat juga?"

"Hihihiii..kirain."

 

Sudah bulan ketiga Arkham menjalani les di FOC bersama Lina. Itu artinya, keduanya akan berpisah sebab Arkham mengambil paket les 3 bulan, sementara Lina 6 bulan.

 

"Lin, kamu les udah bulan ke berapa sekarang?" Tanya Kakak Lina, Rian melalui teleponnya.

"Udah jalan bulan ketiga Kak..bentar lagi tes akhir bulan."

"Bulan ketiga? Kalo Kakak ngga salah inget, Arkham pacar kamu itu ambil paket 3 bulan kan?"

"Iya Kak, Lina juga lagi kepikiran."

"Kamu takut kalo udah lulus nanti Arkham pergi, terus jadi jarang ketemu kamu?"

"Biasanya ada Kak Rian yang selalu di samping aku. Aku mau apa aja, Kakak yang selalu anter-anter dan beliin aku. Semenjak Kak Rian kerja aku mau ngapain aja sendiri loh Kak. Sekarang udah ada Mas Ar, tapi bentar lagi dia juga mau pergi." Ungkap Lina dengan perasaanya yang begitu sedih.

"Cup..cup..cup, sabar ya Lin. Hidup kan emang kaya gitu. Ada yang dateng ada yang pergi..kita ngga bisa ngehalangin orang atau ngendaliin hidup orang semau kita. Mas Ar-mu kan juga punya tanggungjawab. Keliatannya dia orangnya sungguh-sungguh sama prinsip hidupnya. Kalo kamu sabar dan bisa ngimbangin perjuangan Arkham, Kakak yakin suatu saat kebahagiaan yang kamu ingin pasti tercapai." Memahami sifat dan kebiasaan Arlina yang biasa dimanjakan, Rian mencoba menguatkan dan memberi nasihat terbaik untuk adiknya.

***

 

PERJUANGAN BARU

 

"Alhamdulillah aku lulus Lin." Arkham berucap syukur atas kelulusannya setelah ujian bulan ketiga di FOC. "Lin, kok diem?"

"Aku bingung Mas."

"Bingung? Kamu ngga seneng aku lulus?"

"Aku seneng kok liat kamu lulus, tapi aku juga sedih."

"Sedih?"

"Habis ini berarti kamu kan..."

"Ohh, ssssstttt..." Jemari Arkham menghentikan ucapan Lina. "Iya, aku paham. Udah dong jangan terlalu dibawa perasaan. Aku yakin kok kalo kamu kuat."

"Nanti yang nemenin aku disini siapa kalo kamu pergi." Ucap Lina dengan matanya yang sudah memerah dan mulai dibasahi air mata.

 

Arkham sudah menyelesaikan les komputernya yang artinya dia akan bersiap untuk memulai perjuangan barunya di perantauan.

 

6 bulan waktu yang dijanjikan Rendi, saudara sepupu Arkham yang akan membawanya pergi untuk bekerja. Waktu belum genap 6 bulan namun Arkham sudah harus bersiap untuk mengikuti tes sebelum diterima sebagai pekerja.

 

"Lina Bim, dia sampai nangis sebegitu sedihnya di depan papan pengumuman saat tau kalo aku lulus."

"Dia pasti sangat ketakutan mau ditinggal kamu Ar."

"Iya Bim, gimana nanti ya kalo aku bener-bener udah pergi?"

"Kamu harus tenang ya Ar..wajar kok perempuan nangisin cowonya. Apalagi yang aku liat, Lina bener-bener udah sangat bergantung sama kamu."

"Apa dia bakal baik-baik aja ya Bim?"

"Nanti, untuk awal-awalnya pasti engga lah..tapi lama-lama begitu udah terbiasa pasti dia baik-baik aja kok."

"Gimana kamu bisa tau Bim, kalo dia nanti bakal baik-baik aja?"

"Kan kamu pernah cerita..dulu dia pernah sedih sebegitu sedihnya akibat ditinggal kakaknya."

"Iya juga ya Bim, dia sekarang baik-baik aja karena udah ada aku yang gantiin posisi kakaknya. Tunggu Bim..."

"Kamu takut ya Ar..kalo-kalo nanti ada yang gantiin posisi kamu di hatinya Lina?"

"Iya Bim..aku baru kepikiran."

"Justru itu Ar..anggap ini ujian buat Lina. Kalau dia sanggup ngejalanin ini dan tetep bertahan sama kamu, berarti Lina emang pantas buat kamu perjuangin."

"Bener kata Ilyas, kamu emang master kalo masalah percintaan. Tapi aku udah terlanjur sayang sama Lina, kalo dia sampe nglakuin itu pasti aku hancur juga loh Bim."

"Namanya cinta ya emang itu resikonya Ar."

 

Akhirnyapun, Arkham berangkat untuk memulai perjuangan barunya di perantauan. Bersama saudaranya Rendi yang pulang kampung di hari libur kerjanya.

 

"Ar, ada info terbaru nih yang mau aku ceritain." Di perjalanan, Rendi memulai obrolannya dengan Arkham.

"Info terbaru?"

"Sorry ya..aku baru kasih tau kamu sekarang. Soalnya kejadiannya bener-bener mendadak."

"Info apa sih Ren?"

"Jadi saat tes di PT nanti ternyata kamu bakal ada saingan yang sangat berat."

"Saingan?"

"Iya Ar, sebelum hari libur kemarin ada dari HRD yang ngajuin pelamar baru buat dijadiin Admin di produksi."

"Gitu yah Ren..kira-kira apa aku masih ada peluang?"

"Kalo kamu niatnya yang penting kerja sih pasti bisa, tapi kalo pinginnya jadi Admin kemungkinannya sangat kecil. Lawannya bawaan HRD Ar, sementara aku cuma Leader Logistik."

"Ga papa Ren, mungkin rejeki aku emang disitu. Buat pemula, wajar lah harus ngerasain perjuangan berat terlebih dulu."

"Syukurlah Ar kalo kamu berpikir begitu."

***

 

PERSAINGAN

 

Arkham dan Rendi sudah sampai di ibukota Jakarta. Setelah istirahat semalaman, keesokan harinya Rendi mengantar Arkham ke perusahaan untuk mengikuti tes seleksi.

 

"Itu dia pesaing kamu Ar... Fiana namanya. Gimana? Cantik kan? Tapi kamu kan udah punya pacar." Rendi sedikit menggoda Arkham, mengarahkan pandangan ke Fiana yang terlihat dari kejauhan.

"Kamu malah udah tunangan. Awas ya kalo macam-macam ta laporin nih."

"Wah..disini kamu malah bisa jadi mata-mata ya Ar, hahhahaa."

 

Beberapa hari telah berlalu. Sesuai apa yang dikatakan Rendi, Arkham pun gagal menjadi admin produksi. Dia ditempatkan sesuai jurusan yang dia ambil di sekolahnya yaitu permesinan. Arkham akhirnya bekerja sebagai teknisi mesin.

 

"Bim, aku gagal." Arkham mulai curhat kepada Bima lewat telepon.

"Gagal? Terus kamu mau pulang?"

"Engga juga sih Bim, aku gagal jadi admin, tapi aku masih diterima jadi teknisi."

"Kata temenku di tempat kerja, biasanya yang jadi admin kan perempuan. Apa kamu dikalahin sama perempuan?"

"Memang yang jadi Admin perempuan, tapi dia terpilih bukan karena gender, melainkan ada faktor lain. Buktinya mantan admin sebelumnya laki-laki, Anton namanya."

"Terus Lina tau Ar kalo kamu gagal?"

"Aku kalo ngobrol sama Lina lain lagi Bim yang diceritain."

"Lain? Maksudnya?"

"Paling isinya ya curhatan-curhatan dia doang. Minta videocall, minta bantuin kerjain tugas les, sekolah, ya itu-itu aja Bim."

"Kamu ngga coba curhat ke dia?"

"Wah..susah Bim, dia sekarang cuma perduli sama masalahnya sendiri. Ngga pernah perduli lagi sama keadaan aku."

"Padahal dulu kamu ya Ar yang ngerasa dimanjain terus."

"Iya Bim..yaaa udahlah diliat gimana nanti aja."

"Ehh, tadi kamu bilang kalo admin barunya itu cewe kan? Cantik ngga Ar? Minta kontaknya dong."

"Kamu Bim, penyakit buayanya ngga sembuh-sembuh." Arkham bergantian meledek Bima seperti dahulu Bima meledak Arkham.

***

 

MEMBAGI WAKTU

 

Semenjak jauh dari Arkham sikap Lina telah berubah. Lina yang dahulu begitu memperhatikan Arkham, kini hanya perhatian pada dirinya-sendiri. Entah itu dilakukan dia secara sadar atau tidak, ini membuat Arkham kesulitan membagi waktunya. Disisi yang satu ia harus menjaga perasaan dan perhatiannya pada Lina, disisi lain ia juga harus memenuhi tanggungjawab atas pekerjaannya."

 

"Ma'af ya Lin tadi aku lembur ngga ngabarin kamu. Kalo udah di tempat kerja kan ngga dibolehin sering-sering pegang HP, makannya pas kamu telpon aku ngga bisa angkat."

"Iya Mas, tapi lain kali ngabarin ya. Mau lembur atau ngapain, kalo kira-kira itu bikin Mas susah buat aku hubungin bilang. Aku kesepian disini Mas, kan dulu Mas yang selalu nemenin aku."

"Iya Lin janji..lain kali pasti aku ngabarin ke kamu. Jangan sedih-sedih terus dong, jangan ngerasa sendiri gitu..disitu kan masih banyak temen kamu. Ada Ines, Ranti, Fatma..kalo ada apa-apa kan kamu bisa sama mereka."

"Mas mah gitu sekarang, kaya mulai ngehindar ke aku. Mas berubah, dulu kan mas selalu ngomong kalo ada apa-apa suruh bilang aja ke Mas."

"Maksudnya Mas bukan begitu Lina sayang..."

 

Begitulah keadaan hubungan Arkham dan Arlina sekarang. Tiap kali Arkham menyinggung agar Lina bisa hidup lebih mandiri, pasti ujungnya yang terjadi adalah kesalahpahaman. Saling berdebat, saling memberi pengertian diakhiri dengan Arkham yang mengalah hingga kemudian meminta ma'af.

 

"Assalamu'alaikum, hallo Mas Rian." Arkham menelpon kakak Lina.

"Wa'alaikumussalam, iya Ar, tumben kamu nelpon. Ada perlu apa?"

"Iya Mas, ngga lagi sibuk kan?"

"Engga Ar, ada apa?"

"Mas lagi di Jakarta?"

"Iya."

"Akhir pekan ini Mas ada waktu ngga?"

"Kalo Sabtu aku lembur Ar, paling Minggu baru aku libur."

"Aku mau ketemu sama Mas."

"Boleh-boleh, mau aku yang ke tempat kamu atau..."

"Jangan repot-repot Mas, biar aku aja yang ke tempat Mas."

"Kayanya ada hal penting nih yang mau dibicarain."

"Iya Mas, tapi ngga bisa dibicarain ditelpon, enaknya langsung ketemu aja."

"Iyaa, kalo besok kamu mau kesini kabarin aja ya."

"Baik..itu aja Mas, aku mau lanjut kerja lagi. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

 

Menyadari masalah yang ada pada hubungannya, Arkham menghubungi kakak Lina. Ia berniat untuk berkonsultasi agar tau cara menghadapi Lina.

 

"Aku ngga bisa ngebiarin hubungan rumit ini terus berlanjut. Harus cepet-cepet dicari solusinya. Mudah-mudahan keputusanku buat konsultasi sama Mas Rian bisa membantu." Gumam Arkham.

***

 

PESAN PENTING

 

"Jadi apa Ar yang mau diomongin." Setelah beberapa saat mengobrol, Rian kakak Lina mengarahkan pembicaraan menuju intinya.

"Gini Mas, soal hubunganku sama Lina."

"Kalian berantem?"

"Kalo soal berantem sih biasa Mas, paling cuma masalah kecil."

"Terus?"

"Gimana ngomongnya ya..aku jadi ngga enak."

"Lina udah cerita kok Ar."

"Cerita..."

"Lina bilang kamu berubah semenjak dapet kerjaan."

"Bukan begitu yang sebenernya Mas."

"Iya..iya..ngga usah cemas Ar..aku kan juga laki-laki, aku paham kok."

"Apa hanya denger cerita Lina, Mas udah paham situasinya?"

"Kamu udah kenal Lina berapa lama Ar?"

"Dari awal ketemu sampai sekarang udah hampir setaun Mas. Tapi kita sering bareng-bareng cuma pas di kampung, dan itu cuma berlangsung selama 4 bulanan."

"Jadi udah 6 bulan lebih kalian ngga ketemu ya?"

"Iya Mas."

"Emang gitulah Ar sikap Lina, kalo udah sayang ke orang dia pasti ngga bakal mudah buat jauh dari orang yang dia sayangin."

"Apa dulunya Lina udah ada cowo lain selain aku Mas?"

"Belum pernah, kamu pacar pertama Lina. Sayang yang aku maksud bukan pasangan Ar, jadi..dulu Lina deket banget sama Ayah, sampe kemudian Ayah dibuat sibuk sama kerjaan. Rasa sayang Lina ke Ayah ngebuat dia jadi ngerasa kesepian, biarpun di sampingnya masih ada Ibu sama Kakak-kakaknya."

"Terus gimana caranya rasa sayang Lina bisa pindah ke Mas Rian?"

"Butuh waktu yang panjang..lama-kelamaan Lina mulai terbiasa sama kesibukan Ayah. Aku dengan susah payah selalu usaha ngehibur sama kasih perhatian terus ke Lina, sampe tiba waktunya sosok Ayah digantikan olehku."

"Jadi kemungkinan yang terjadi sekarang rasa sayang Lina yang ada sama Mas berpindah ke aku?"

"Ar, sekarang aku tanya..apa Kamu bener-bener cinta sama Lina?"

"Jujur aku cinta dan sangat sayang ke Lina Mas, tapi..."

"Kalau bener kaya gitu pertahanin semampu kamu. Aku tau kamu orang yang berprinsip, kamu ingin mandiri dan punya rasa tanggungjawab yang tinggi. Aku tau yang dipikirin di hidup kamu bukan cuma Lina."

"Maksud Mas? Pertahanin semampuku?"

"Ar, kita ngga bisa nyalahin Lina sama sikap dan perasaannya, juga kamu sama tanggungjawab yang ada di pundak kamu. Kita juga ngga bisa nyalahin cinta yang ada sama kalian. Jadi kalo kamu ngerasa kamulah orang yang tepat buat Lina, pertahanin hubungan kalian, tapi kalo ngga, putusin!" Rian dengan serius memberi kepercayaan pada Arkham untuk memutuskan mana yang akan dia pilih.

"Putus? Mas, ini menyangkut adik Mas. Apa Mas ngga kasian?"

"Aku percaya kamu orang yang baik Ar. Aku berkata demikian karena aku paham situasinya. Aku percaya apa yang kamu pilih entah bertahan atau putus, itu pasti udah kamu pertimbangin mateng-mateng."

"Jadi emang nggada solusi ya Mas?"

"Cuma satu pesenku Ar. Kalo kamu mau putus sama Lina, tunggu sampe dia lulus sekolah."

"Mas, aku minta ma'af karena udah masuk ke kehidupan Lina." Sesal Arkham.

"Untuk sekarang aku nitip Lina ya Ar, jaga dia baik-baik."

"Pasti."

***

 

MENJADI PENGHIBUR

 

"Ar, mesin yang kamu repair trouble lagi tuh.." Tegur Firman, salah satu teman kerja di perusahaan melihat Arkham yang hanya diam ketika mesin di depannya sedang trouble."

"Mas mikirin apa si diem terus?" Tanya teman kerjanya yang lain, Putri.

 

Dari jauh terlihat Fiana yang juga tersenyum melihat tingkah laku Arkham. "Tuh Mas disenyumin sama Ana." Singgung Putri.

 

"Kenapa Ar? Sekarang kamu jadi sering melamun." Rendi menanyakan keadaan Arkham di jam istirahatnya.

"Ga papa Ren, cuma lagi kurang fit aja."

"Kalo badannya yang kurang fit kasih vitamin, tapi kalo hati, masalah yang bikin kamu berantem sama pasangan harus cepet diselesaiin."

"Apaan sih Ren..."

"Bentar lagi libur akhir taun loh Ar, kamu udah dapet tiket kereta belom?"

"Udah Ren dari kemaren, aku pesen tengah malem lewat online."

"Kok ngga bilang Ar, aku malah belum dapet. Kira-kira masih kebagian ngga ya?"

 

Semenjak menerima pesan dari Rian, yang ada di pikiran Arkham sekarang hanya Lina, Lina dan Lina. Ia selalu berpikir bagaimana membuat hati Lina merasa terhibur. Itu sebabnya, begitu tau akhir taun di tempat kerjanya ada libur panjang, Arkham langsung dengan cepat mencari transportasi untuk pulang, semua ia lakukan demi menghibur Lina.

 

"Ar, apa kabar kamu sekarang?" Bima menelepon Arkham.

"Baik Bim."

"Kenapa jadi jarang telpon? Ditelpon juga jarang diangkat?"

"Sering ngerasa capek kerja aja Bim."

"Libur akhir taun kamu pulang?"

"Iya pulang."

"Ini...jadi taun baru besok Ilyas ngajakin kita ke Dieng. Gimana? Kamu ikut?

"Aku libur cuma sampai tanggal 5 Bim."

"Perginya kan pas taun barunya aja, kalo nginep juga paling tanggal 2 udah pulang."

"Sorry ya Bim, ngga bisa."

"Udah ada janji sama Lina ya Ar?"

"Iya Bim."

"Yaaaaa..kalo gitu dari awal bilang aja lah Ar..namanya pasangan LDR yang baru mau ketemuan, kan lagi asik-asiknya buat ngobatin rasa kangen."

"Ma'af ya Bim."

"Kenapa si Ar, mau pulang kampung ketemu pacar, tapi nada bicara kamu kok gada seneng-senengnya?"

 

Setelah 7 bulan merantau, Arkham pulang ke kampung halamannya. Ia di jemput oleh Bima di stasiun.

 

"Ngebet banget Ar minta di jemput sama aku."

"Udah hampir tengah malem nih, kalo kita mampir ke warung makan kamu ngga papa kan Bim."

"Boleh..emang ada apa si Ar? Mending langsung mulai obrolin sini aja bisa kan?"

"Gini Bim..besok pagi aku udah harus pergi sama Lina. Makannya aku sekarang ngebet minta kamu yang jemput, aku pingin ngobrol dulu sama kamu."

"Ohh..mau konsultasi percintaan?

"Ahh..kamu Bim."

"Yaudah langsung aja."

"Kaya yang udah aku ceritain, Lina sekarang emang bener-bener berubah 200°."

"Ah..kamu suka nambah-nambahin Ar."

"Iya iya..serius nih. Soal perubahan Lina yang sekarang posesifnya minta ampun."

"Bukannya diposesifin cewe cantik itu nyenengin Ar."

"Cantik ternyata ngga jamin Bim..kalo sikapnya ampe ngelebihin batas kewajaran luntur cantiknya."

"Ah..masa Ar?"

"Ternyata ya Bim..dulu aku emang udah dijadiin target sama Lina."

"Jadi bener dulu Lina emang sengaja ngejar-ngejar kamu? Tau dari mana kamu Ar? Jangan-jangan kamu sekarang yang kege-eran."

"Aku udah ngobrol banyak sama kakaknya Lina Bim."

"Jadi kamu udah sampe minta saran langsung ke kakaknya Lina ya Ar? Wah udah masalah serius nih."

"Ternyata Bim, dulu Lina cuma pura-pura sering kesusahan di tempat les. Sebenernya sehabis lulus nanti dia mau lanjutin kuliah, calon anak kuliahan mana butuh Bim les-les komputer..dia ikut-ikutan les di FOC cuma buat cari kesibukan biar bisa nglupain kesedihan sehabis ditinggal kakaknya."

***

 

PUTUS

 

Telah tiba harinya pengumuman kelulusan di sekolah Lina. Tanpa didampingi Arkham, Lina menghabiskan acara hanya dengan teman-teman terdekatnya.

 

"Ar..sekarang hari kelulusan Lina kan?" Tanya Ilyas yang sedang main di kosan Arkham.

"Iya..gimana ya Yas?"

"Kamu yakin..ngga mau berubah pikiran?"

"Jujur berat loh Yas ngelepas Lina."

"Takut ngga bisa dapet ganti yang secantik Lina ya Ar."

"Ngga cuma itu Yas, mau seburuk apapun hubungan pacaran, yang namanya putus kan menyakitkan."

 

Untuk ketiga kalinya, Arkham pulang ke kampung halaman. Meski hanya libur akhir pekan, ia sengaja menyempatkan untuk pulang demi menuntaskan keputusannya.

 

"Kamu udah siap Ar?" Bima menanyakan kesiapan Arkham.

"Siap ngga siap Bim."

"Mau dibicarain dimana sama Lina?"

"Kalo saran kamu dimana ya Bim? Kebetulan kakak Lina sekarang juga sedang ada di rumah."

"Lebih baik ajak Lina keluar aja deh Ar."

"Sama kakaknya sekalian? Kan kalo ada kakaknya, nanti Lina jadi ada yang nenangin."

"Jangan kamu anggap karena kakaknya Lina mendukung kamu, itu artinya dia bisa terima kalo liat langsung adiknya kamu putusin Ar."

"Gitu ya Bim?"

"Ya iya lah Ar..kakak mana yang tega liat adiknya disakitin di depan matanya sendiri?"

"Iya Bim, aku ngga kebayang kalo aku yang jadi kakaknya Lina."

"Makannya obrolin berdua aja, cari tempat yang sepi. Dan kamu juga harus persiapin diri kamu kalo-kalo Lina mau lakuin sesuatu."

"Ngga nyangka aku Bim, hubungan cinta ternyata bisa serumit ini."

***

 

PANDANGAN KEDUA

 

Waktu sudah berlalu 2 bulan sesudah Arkham memutuskan Lina. Hari-hari dilalui Arkham dengan rasa bersalah yang terus menghantui hatinya. Ia sering ditawari perempuan-perempuan cantik oleh teman-temannya. Namun Arkham tidak pernah menanggapinya.

 

Di suatu saat ketika perusahaan akan mengadakan acara gathering tahunan. Arkham pun hendak meminta ijin untuk tidak mengikutinya. Namun ada Firman, satu teman dekat yang membujuknya.

 

"Yakin Ar kamu ngga mau ikut gathering?" Firman menanyakan.

"Engga Man, acaranya lomba-lomba gitu aja kan? Ngga ada tempat yang cocok buat hunting."

"Buat hobby foto kamu ya Ar? Kan bisa hunting cewe-cewe yang ada di PT."

"Kurang seru Man."

"Kita udah pernah 2 kali jalan-jalan ke puncak. Yang pertama kamu kaya yang semangat banget jajalin kamera baru kamu, tapi yang terakhir kemarin keliatannya beda Ar?"

"Iya Man, aku emang hobby kamera dan suka jalan-jalan di tengah kesibukan. Tapi sekarang kaya ada yang kurang. Aku udah ngga semangat buat muter-muter jepretin kamera."

"Ada masalah pribadi ya Ar? Kalo kamu males buat bawa kamera kamu..biar aku aja yang bawa. Syukur kalo sekalian kamu mau ikut, jadi bisa temenin aku Ar."

"Temenin kamu ngedeketin Rahma ya Man? Boleh lah, daripada dikosan aku ngga ngapa-ngapain."

 

Keesokan harinya Arkham dan Firman sudah berada di acara gathering perusahaan.

 

"Kemarin katanya udah ngga semangat buat foto-foto.." Ucap Firman melihat Arkham yang tiba-tiba bersemangat kembali memainkan kameranya.

"Acaranya rame Man."

"Banyak yang cantik-cantik kan Ar? Kamu ngga pengin bidik satu..eehhh, mau kemana kamu Ar...?? Kameranya...kemarin kan aku bilang mau minjem..."

 

Tidak mempedulikan panggilan Firman, Arkham berjalan mengikuti suasana hatinya. Sampai di suatu tempat ia melihat ada perempuan yang cantik jelita. Ia memotretnya dari kejauhan, hingga kemudian ia memberanikan diri meminta foto perempuan itu yang sedang berkumpul bersama teman-temannya.

 

"Mba semuanya boleh aku yang fotoin." Arkham menawarkan.

"Eh, ada tukang foto..iya Mas, ayu kita foto bareng-bareng." Ajak seorang perempuan yang ada di rombongan itu.

"Satu...dua..."

"Ada yang mau ganti gaya? Satu..dua.."

"Mas fotoin pake HP aku ya." Pinta salah satu perempuan yang lain.

"Oke..satu..dua.."

"HP aku juga Mas."

"Aku juga Mas."

Arkham bergantian memfoto memakai beberapa HP perempuan yang ada di rombongan itu.

 

"Wah..laris kamu Ar."

"Iya Man, malah pada setor HP, Aku kumpulin aja HP dibawah terus aku fotoin satu-satu."

"Coba liat foto yang ada di kamera kamu Ar."

(Arkham menunjukan foto di kameranya)

"Dapet foto Rahma juga ya Ar."

"Pokoknya banyak lah Man, tar kamu tinggal bilang mau foto siapa."

"Yeni, Dinda, Sarah." Firman menyebutkan nama-nama yang ada di foto kamera Arkham.

"Ini yang di tengah siapa Man?"

"Itu Ana lah Ar, masa ngga kenal?"

"Ana...Fiana?"

"Iya."

"Cantik ya Man."

"Dari dulu kamu kemana aja? Ana kan emang cantik. Ati-ati Ar, banyak saingan."

"Termasuk kamu ya Man?"

"Aku Rahma aja lah Ar."

"Tapi bener Man ini Ana?"

"Ya ampuuunn..ngga percaya kamu Ar, besok tanyain aja ke temen-temennya..atau kalo kamu berani ke orangnya langsung."

"Itu Ana kan Man?" Arkham melihat Ana langsung yang sedang berjalan di taman.

"Iya itu Ana..mirip kan sama yang difoto?"

***

 

MENGANTAR PULANG

 

Tak disangka-sangka, perempuan yang diikuti, dibidik dari kejauhan hingga membuat Arkham berani memotret dari dekat di acara gathering ternyata adalah Fiana.

 

Sejak Arkham menjalani hubungan dengan Lina, ia memang sudah tidak lagi bergairah melirik-lirik perempuan. Teman-teman Arkham di perusahaan jarang yang tau kalau Arkham pernah berpacaran. Padahal sebenarnya Arkham pernah menjalani hubungan yang begitu rumit yang membuat ia benar-benar merasa terkekang.

 

"Put, kamu kenal deket sama Ana ngga?" Tanya Arkham pada Putri."

"Kalo iya kenapa, kalo engga kenapa?"

"Bentar Put, aku nanya..ini bener kan Put fotonya Ana?" Arkham menunjukan foto di kamera yang sudah dia salin ke ponselnya.

"Ih..Mas curi-curi foto Ana."

"Ssssssttt..kamuu, ini dapet di acara kemarin. Aku minta sendiri ngga nyuri. Nih..kamu kemarin juga minta difotoin."

"Bercanda Mas... Mas suka ya sama Ana?"

"Kenal orangnya juga belum."

"Sebenernya aku kurang tau si Mas..aku ngga kenal deket sama Ana. Kalo Mas mau cari tau, tanya Mba Ratna aja, dia sering pulang bareng Ana."

 

Menerima saran Putri, hari berikutnya Arkham mencari tau soal Ana ke Ratna.

 

"Mas kemarin yang foto-fotoin di acara ya?" Tanya Ratna setelah Arkham memperkenalkan dirinya.

"Iya Mba."

 

Setelah mengobrol cukup lama, Arkham mulai tahu sedikit demi sedikit tentang Ana. Sampai beberapa hari kemudian.

 

"Iya, Ana sering pulang bareng aku hampir tiap hari. Tapi dia kan Admin, jadi kadang dia ada lembur. Nah kalo lagi lembur seringnya dia pulangnya sendiri Ar."

"Jalan kaki Mba?"

"Iya..kan disini kalo malem ngga ada angkutan umum."

"Ngga pake ojek online aja Mba?"

"Dia ngga mau, ojek online sama angkot tarifnya beda jauh katanya."

"Emang ngga ada temennya yang anter?"

"Dia orangnya ngga suka ngerepotin temen. Sebenernya kalo dia mau..temen cewe disini kan ada yang pulangnya malem, tapi yang jarak kosannya deket sama dia cuma aku, jadi dia mau dianternya cuma sama aku."

"Kalo temen cowo?"

"Nah itu susahnya Ar, dia paling ngga mau kalo dianterin sama cowo."

"Aduh..susah ya Mba?"

"Ar..kamu bagian teknisi kan?"

"Iya Mba."

"Berarti kamu malah sering pulang malem. Coba nanti aku bujukin."

"Bujukin Ana Mba?"

"Iya siapa tau dia mau pulang bareng sama kamu."

"Tapi kosan aku lawan arah sama Ana."

"Makannya jangan bilang, kalo sampai tau pasti Ana ngga mau."

"Emang hari ini Ana pulang malem?"

"Nih ada chatnya, dia minta aku pulang duluan. Tapi jangan kamu langsung yang minta buat anter Ana. Bentar ya Ar."

"Aku ke tempat kerjaku dulu aja Mba, nanti sambung lagi."

"Ya udah, nanti kalo Ana mau biar aku bawa dia ke kamu."

***

 

ANCAMAN

 

Arkham berhasil menjadi laki-laki pertama yang mengantar Fiana di tempat kerjanya. Keduanya terlihat begitu serasi, sama-sama santun dan kalem. Apa usaha Arkham mendekati Ana merupakan pertanda kalau dia sudah move on dari Lina?

 

"Cieeeee..yang baru dapet tukang ojek baru." Ratna menggoda Ana di lockerroom.

"Apaan si Mba?" Ana gugup menanggapi godaan Ratna.

"Nanti lembur lagi ngga An?

"Engga."

"Wah ngga dianter Mas Ar dong?

"Aku manggilnya Ar aja Mba, dia setaun lebih muda dari aku."

"Ooooh.. Ar, apa nanti aku tinggal aja ya biar kamu dianter lagi sama Ar."

"Jangan lah Mba. Aku ngga mau jadi ngrepotin dia."

 

Seperti yang dijelaskan Ratna, Fiana memang paling tidak mau kalau dia sampai merepotkan orang lain. Karena mendengar cerita tentang sikap Ana yang mandiri, tekun dan kuat ini, Arkham akhirnya memutuskan untuk mendekatinya.

 

"Hebat kamu Ar, giliran kamu yang ajakin Fiana pulang dia langsung mau."

"Mungkin itu yang namanya jodoh Mba."

"Kamu langsung angan-angannya ketinggian Ar..emang Ana-nya udah pasti mau sama kamu?"

"Ya..usaha aja lah Mba."

"Aku kasih tau ya Ar, sebenernya dia udah sejak lama perhatiin kamu loh."

"Emang iya? Kok aku kaya ngga pernah liat Ana lagi merhatiin aku."

"Kamunya aja yang dulu ngga mau lirik cewe-cewe sini. Apa dulu kamu masih pacaran ya Ar?"

"Iya Mba, tapi udah putus sekitar 3 bulan yang lalu. Sebenernya aku udah kenal juga sama Ana, kita ternyata satu angkatan waktu mau masuk kerja Mba. Malah pernah jadi saingan di seleksi buat masuk Admin. Tapi aku kaya ngga ngeh kalo itu Ana, ngga tau kenapa."

"Tuh..kan? Jadi ceritanya sekarang kamu udah move on, makannya kamu baru cari-cari Ana?"

"Iya ma'aaaf.. Eh Mba, aku dapet chat kaya gini nih.." Arkham menunjukan ponselnya pada Ratna.

"Biasa Ar..paling itu orang yang iri liat kamu anterin Ana."

"Tapi bener kan Mba Ana belum punya pacar?"

"Ngapain boong Ar..itu yang chat orang sini kali ngaku-ngaku jadi pacar Ana biar kamu ngga jadi deketin Ana."

"Kalo aku kasih tau ini ke Ana apa ngga papa ya Mba?"

"Ngga papa kasih tau aja. Kamu ngga usah canggung-canggung lagi ke Ana. Lagian dia udah nerima kamu kok, tinggal nunggu kamunya aja mau seperti apa buat perjuangin Ana."

"Kenapa Mba bisa seyakin itu?"

"Sepupu kamu yang pindah ke cabang Bekasi Ar, dulu Ana pernah naksir dia."

"Rendi..."

"Tapi Ana tau Rendi udah tunangan. Kayanya Ana emang suka model-model kaya kamu sama Rendi deh Ar, kalian kan sodara, dia suka tipikal cowo pendiam yang sok misterius kaya kalian gitu."

"Ah..misterius apaan?"

"Cowo-cowo lain disini Ar, ya ampun..kalo liat Ana pasti pada jelalatan..matanya sampe terbang-terbang. Tapi kamu? Anna pernah senyumin kamu aja..kamu ngga respon apa-apa. Rendi juga."

***

 

BACKSTREET

 

"Apa kamu bilang Ar? Kamu udah punya cewe baru lagi? Ilyas kaget mendengar pernyataan kalau Arkham sudah kembali berpacaran.

"Mumpung hari ini aku mau jalan sama Indri, gimana kalo kita jalan berempat aja Ar?"

"Kamu Yas..tiap akhir pekan sekarang jadi sering ke kosanku padahal jauh."

"Demi Indri Ar..aku rela bolak-balik Bandung-Jakarta tiap Minggu, untung kamu ngekos disini jadi bisa buat tumpangan. Gimana tawarannya buat jalan berempat?"

"Ceritanya nantangin doubledate nih?"

"Terserah Ar apa istilahnya."

"Ngga bisa Yas."

"Kenapa? Ana sibuk?"

"Kita backstreet Yas."

"Kamu dan Ana backstreet? Kenapa harus backstreet si Ar?"

"Kamu inget mantan aku dan keluarganya kan Yas? Masih terlalu cepet buat mereka tau kabar kalo aku udah dapet gantinya Lina."

"Kalo menurutku sebenernya ga papa si Ar, namanya juga anak muda. Pacaran, putus, pacaran lagi kan wajar."

"Masalahnya keluarga Lina udah percaya banget sama aku. Dan penyebab kita putus bukan karena Lina selingkuh atau minta diputusin, tapi semua gara-gara pribadiku yang ngerasa ngga cocok sama pribadinya Lina Yas."

"Emang iya sih Ar..Malah posisinya Lina kan sedang sayang-sayangnya sama kamu, tapi malah kamu putusin."

"Selain itu di keluarga Ana juga ada masalah Yas, Ana ngga pernah mau bawa pulang cowo ke rumahnya, sebelum cowo yang deket ama dia udah bener-bener mau buat jalanin hubungan yang serius."

"Berarti kali ini tantangan percintaanmu bukan ada pada sikap kalian masing-masing, tapi ada pada orang-orang di sekeliling kalian ya Ar.."

"Begitulah Yas."

"Terus kapan kamu mau seriusin Ana?"

"Belum tau Yas..kerjaan aku aja masih kontrak."

 

Berbeda dengan kisah cintanya yang pertama. Bila dulu hubungan Arkham dan Lina sudah di terima oleh keluarga, bahkan mendapat dukungan penuh dari kakaknya Lina. Kali ini justru Arkham harus dihadapkan dengan tantangan mendapatkan restu dari keluarga pacar barunya, Ana.

 

"An, kamu ngga papa ngejalanin hubungan kaya gini?"

"Ngga papa kok Ar, aku yang penting kan bisa cocok aja sama orang yang ada di samping aku."

"Iya An, kalo ngejalanin hubungan sama orang yang sama-sama paham gini, kita jadi ngga terlalu banyak pikiran. Ngerasa tenang."

"Nanti kalo udah waktunya juga pasti dikasih buat kita liatin hubungan ini kesemuanya. Kamu yakin kan Ar?"

"Kalo kamu yakin, aku juga pasti yakin An."

***

 

DI BALIK PUNGGUNG AYAH

 

Ana dan Arkham sedang dalam perjalanan menuju kampung halamannya masing-masing. Arkham mengakhiri tujuannya di Kebumen, sedang Ana di Surabaya. Mereka sedang menikmati hari libur Idul Fitri.

 

"Kamu baru setengah perjalanan ya An? Harusnya kemarin kamu pesen tiket kereta aja biar cepet."

"Kalo aku naik kereta berarti sekarang aku lagi ngga sama kamu, gimana sii."

"Aku seneng An tiap kali pulang bisa bareng sama kamu."

"Kamu dulu seringnya naik kereta, biar bisa di jalan lama-lama sama aku jadi pindah naik bus."

"Kamu udah liat koleksi tiket kereta aku ya?"

"Biarpun naik bus lama, apalagi libur lebaran, macet-macet gini tapi aku ngga ngerasa capek Ar."

"Bareng sama aku mana mungkin mau ngerasa capek. Coba ntar kalo aku udah turun."

"Iya Ar, bentar lagi kamu nyampe."

"Getuk gorengnya ini..Aku pindahin dulu ke tas kamu takut lupa, nanti Mamah kamu nyariin."

 

Sesampai di perkotaan Gombong-Kebumen, Arkham turun dari bus yang dinaikinya bersama Ana. Terlihat ada Bima yang sedang menunggu kedatangan Arkham.

 

"Hei Bim."

"Ar...ngomong-ngomong yang ikut turun terus naik lagi itu si Ana?" Sambil berjabat tangan Bima bertanya pada Arkham.

"Iya Bim. Kenapaaa? Cantik kan?"

"Matamu emang jeli Ar kalo disuruh pilih-pilih cewe."

"Jeli apanya Bim?"

"Kenapa tadi ngga dikenalin dulu si Ar?"

"Kelamaan lah Bim, kasian sopirnya. Udah ah, ayo kita pulang!"

 

Hari Raya Idul Fitri di kampung Arkham berlangsung sangat meriah. Namun ada ujian besar yang sedang datang menghampiri Arkham.

 

"Ar, sekarang Ayah udah pensiun. Kamu yang lebih giat lagi ya kerjanya! Di kampung, Ayah emang tetep lanjut buat usaha cari uang, tapi kamu udah tau sekarang, namanya penghasilan di kampung dan di kota kan beda."

"Iya Yah, sekarang Arkham udah jadi leader assistant. Sekitar dua bulan lagi Arkham ada peluang buat pengangkatan jadi karyawan tetap."

"Syukurlah Ar. Kamu juga harus inget adek-adek kamu yang masih sekolah. Bukannya Ayah mau limpahin tanggungjawab Ayah ke kamu, tapi Ayah cuma pingin kamu liat di balik punggung Ayah, ada umur Ayah yang udah tak muda lagi, ada anak-anak Ayah yang masih harus Ayah antarkan sampai mereka semua bisa mandiri."

"Iya, Arkham paham kok Yah. Sebagai anak pertama, kalo Ayah udah ngga mampu ngejalanin tugas karena batasan-batasan yang dikasih Allah, berarti tanggungjawab untuk tugas Ayah kan ada sama aku."

"Ayah bangga loh Ar, punya anak yang punya pemikiran bijak seperti kamu. Ayah juga ngga bakal mau kalah biar bisa tetep kerja keras, biar kamu ngga harus susah payah dilimpahi tugas-tugas Ayah."

"Tapi Ayah jangan terlalu memaksakan ya..tenang masih ada Arkham."

***

 

UJIAN CINTA SEBENARNYA

 

2 Bulan Kemudian

 

"Akhir-akhir ini kamu sering murung An? Apa karena kamu mau habis kontrak? Tapi kan Arkham udah terima SK pengangkatan, berarti dia udah bisa jalanin hubungan serius yang di minta keluarga kamu." Ratna memperhatikan tingkah Fiana yang lain dari biasanya.

"Ini ujiannya lain lagi Mba."

"Ujian? Kamu habis kontrak juga langsung pindah. Kan kamu udah diterima di PT sebelah."

"Pasti dikira Mba ujiannya LDR atau kaya yang jarang ketemu gitu kan Mba?"

"Yaa..kalo soal restu, kan Arkham sekarang udah kartap. Terus buat jalanin hubungan yang serius udah mampu, berarti keluargamu udah setuju kan An?"

"Masih ada lagi Mba."

 

Lagi-lagi Arkham mendapat ujian berat di percintaannya. Dalam kisah yang pertama Arkham diuji oleh karakter pasangannya yang posesif dan sangat manja. Sementara dalam kisahnya yang kedua Arkham diuji oleh latarbelakang Ana yang bertentangan dengan latarbelakangnya.

 

"Jadi bener ya Ar, jadi teknisi mesin emang rejeki kamu." Ucap Rendi mengingat perkataan Arkham saat diperjalanan pertama menuju perantauan.

"Alhamdulillah Ren, terima kasih ya buat semuanya."

"Sama-sama..itu yang aku maksud waktu itu Ar. Faktor usaha buat dapetin rejeki emang penting, tapi kita juga ga bisa mungkirin kalo faktor dari yang maha kuasa itu jauh lebih penting."

"Bener banget kamu Ren. Itu karena Pak Burhan diterima jadi pegawai BUMN aku jadi diangkat assistant, kan semua assistant disini statusnya harus kartap, jadi aku otomatis.."

"Berarti ngga sia-sia kan les komputer kamu?"

"Iya Ren, gara-gara ada sertifikat komputer aku bisa terpilih jadi assistant leader."

"Syukurlah..eh, ngomong-ngomong aku sedikit denger..katanya kamu ada hubungan sama Fiana ya Ar?"

"Akhirnya sampe ke telinga kamu juga ya Ren."

"Aku denger baru akhir-akhir ini Ar, emang udah lama?"

"Udah hampir dua taun Ren, kita backstreet."

"Ahh..kamu Ar..sama-sama terkenal anak baik kenapa harus backstreet?"

"Kita terhalang sama keadaan Ren."

"Emang kenapa? Gara-gara Ana orang jauh? Kan kalian bisa buat kesepakatan, mau Ana yang ikut kamu atau kamu yang ikut Ana tinggal di Surabaya."

"Itu alasannya Ren, kesepakatan ngga bisa tercapai. Ayah Ana udah sering sakit-sakitan."

"Ana masih punya saudara kan Ar?"

"Dua kakak perempuan Ana udah tinggal jauh sama suaminya. Sekarang Ana punya tanggungjawab buat urus Ayahnya yang sakit dan juga adiknya yang masih kecil. Sementara aku, kamu tau sendiri kan Ren?"

"Dan sebagai orang yang baik, kamu dan Ana ngga bakal menangin ego demi cinta kalian. Emang biasanya gitu ya Ar, orang kalo baik pasti ada aja ujiannya."

"Minta do'anya aja ya Ren..mudah-mudahan kita bisa lalui semua ini dengan baik."

"Amiiinn...semangat Ar!"

***

 

JALAN MASING-MASING

 

Arkham sudah menjadi leader assistant, sedang Fiana sudah pindah tempat kerjanya. Meski sudah berbeda tempat, Arkham dan Fiana masih sering bertemu karena tempat kerja mereka masih dalam satu kawasan.

 

"Mba udah enak ya sekarang. Udah ngga kerja lagi dan tinggal nungguin dede bayi." Ucap Ana pada Ratna yang sedang mampir ke kosannya.

"Alhamdulillah, disyukuri aja An. Eh, kamu masih ngga pengin beli motor An? Biar disini kemana-mananya lebih gampang."

"Engga mba...aku lebih milih buat ditabung aja, lagian bentar lagi aku udah mau keluar."

"Kamu mau resign?"

"Iya Mba."

"Kamu kan baru 6 bulan kerja di tempat yang baru An, kenapa udah mau resign?"

"Aku ngga kuat Mba."

"Hubungan kamu sama Arkham masih baik-baik aja kan?"

"Kita udah..."

"Kamu dan Arkham putus An?"

"Bukan Mba..kita mutusin buat break dulu biar bisa merenung masing-masing."

"Ann, kalo Ar emang bener-bener ngga bisa buat tinggal di Surabaya, emang ngga bisa kamu yang ikut aja tinggal sama Ar? Toh kalian juga kan sama-sama kerja, kalian juga bisa pake penghasilan masing-masing buat kebutuhan kalian masing-masing."

"Itu udah ngga mungkin Mba. Orang tua aku udah trauma sama yang dialamain kakak-kakak aku. Pokoknya siapa yang bakal jadi suami aku, dia harus janji mau tinggal sama orang tuaku Mba."

"Kalo gitu apa kamu ngga bisa An buat lupain Arkham aja. Kamu kan tetep bisa jalanin hidup disini meski tanpa Ar."

"Kalo aku tetep disini itu mustahil Mba. Semua kriteria cowo yang aku impiin semua ada sama Ar. Dari semua mantan-mantan aku dulu, cuma Ar yang bisa buat aku ngerasa sakit sampe kaya gini."

"Aduh An, aku jadi merasa bersalah karena aku yang udah deketin kamu sama Ar."

"Justru aku berterima kasih sama Mba, karena Mba udah bawain Ar ke aku. Itu justru buat aku tau kalo cowo yang udah aku impi-impiin selama ini ternyata bener-bener ada."

"Sabar ya An, kamu harus yakin kalo nanti di hidup kamu pasti masih akan datang Arkham yang lain. Atau kalo Allah udah berkehendak, bukan ngga mungkin kalo Ar yang sekarang akan jadi jodoh kamu."

 

Hubungan Arkham dan Fiana sudah diambang perpisahan. Sudah 4 bulan mereka tak saling berhubungan, meski terkadang mereka berpapasan.

 

"Resign Mba?" Arkham kaget mendengar berita dari Ratna kalau Ana sudah resign.

"Iya Ar, sekarang Ana udah ngga disini lagi, dia udah pulang ke Surabaya."

"Pantesan aku cari-cari ke tempat yang biasa Ana datengin tapi dia ngga Ada."

"Jadi kamu diem-diem masih sering perhatiin Ana ya Ar?"

"Iya Mba, aku juga sering liat dia dari jauh jalan kaki pake payung ujan-ujan. Pengen banget aku anterin dia waktu itu Mba."

"Kamu ngga coba buat hubungan kaya temenan aja Ar..biar kamu bisa tetep anter jemput dia."

"Udah Mba..aku udah sempet beberapa kali nawarin dia. Pas ujan juga pernah."

"Tapi dia nolak?"

"Iya Mba, kan Mba tau teguhnya Ana kaya apa."

"Iya si Ar..tapi dia lakuin itu bukan karna dia benci kamu loh Ar."

"Tapi dia keliatan marah banget Mba tiap kali liat aku."

"Dia begitu cuma buat ngejaga hatinya Ar. Dia ngga mau semakin rapuh tiap kali dia ketemu kamu. Itu dia lakuin karna menurutnya kamu adalah hal yang paling berharga tapi ngga bisa dia milikin."

"Kata-kata Ana yang selalu aku inget sebelum kita mutusin buat break, "Kalo emang jodoh ga bakal kemana kok". Kita akan liat keadaan aku dan Ana di suatu saat". Mengingat kata-kata Ana yang diucapkan sebelum mereka mengambil jalan masing-masing, Arkham masih menaruh harapan besar agar dia kembali dipersatukan dengan Ana.

***

 

SENDIRIAN

 

3 tahun telah berlalu...

 

"Ini Ar..undangan aku sama Indri." Ilyas mengantarkan undangan pernikahannya setelah putus-nyambung berpacaran dengan Indri.

"Kamu yang jomblonya paling akut, tapi palah kamu yang nikahnya duluan ya Yas?"

"Kamu sih Ar, makannya cari pacar jangan yang jauh-jauh! Kaya aku nih, lancar jaya."

"Iya Yas, aku jadi tau sekarang ujian-ujian yang ada dalam percintaan."

"Mending kamu Ar..belum pernah ngrasain yang namanya diduain kaya aku sama Bima."

"Tapi tetep Yas, pengalaman pacaran yang aku alamin udah bener-bener buat aku ngga karuan. Aku kaya yang nggada gairah lagi buat cinta-cintaan."

"Udah 3 taun aku ngga denger kamu punya pacar lagi Ar. Pergi jalan sama cewe juga ngga pernah."

"Hei Ar, Yas.." Bima datang menghampiri Arkham dan Ilyas."

"Mana Yas undangannya?"

"Ini Bim, jangan lupa ajak Mitha ya.."

"Kenapa ngga libur Agustus sekarang aja si Yas acaranya?"

"Iya nih, ngga tau si Ilyas..aku kan udah ambil cuti sekarang, kalo Minggu depan aku udah berangkat jadi ngga bisa dateng."

"Tuh..kan Yas."

"Ngga papa ngga dateng Ar, yang penting kan do'anya."

"Do'anya apa duitnya nih Yas?"

"Ah..kamu Bim."

"Ar, kamu masih betah? Udah 3 taun loh Ar."

"Iya nih si Ar, barusan aku juga udah bilang."

"Mau info ngga Ar?" Celetuk Bima.

"Info apaan sih Bim?"

"Kamu ke Timur ngikutin jalan raya ini ya..lurus terus sampe mentok jalan utama kecamatan kan ada perempatan. Terus kamu belok kanan kira-kira 2km, nah di sebelah kiri jalan kan ada minimareket. Disitu ada kasir yang cantik loh Ar, dia lulusan 2 taun lalu dan dia masih single. Rumah dia tinggal masih tetangga Ar sama desa kita."

"Ohh, si Zahra ya Bim?"

"Iya bener banget kamu Yas."

"Baru 6 bulan dia kerja disana Bim."

"Sebelumnya dia kerja di butik saudaranya ya Yas."

"Dari hasil kerjanya..sekarang dia udah dapet motor buat dia berangkat kerja Bim."

"Motor matic warna putih ya Yas?"

"Iya, dijamin anaknya pasti mandiri deh."

"Cantik juga Yas, ngga kalah sama mantan-mantan Arkham."

"Aaaahh..kalian pada ngomong apa sii..h"

 

Keesokan harinya Arkham pergi ke terminal membeli tiket untuk keberangkatannya. Setelahnya Arkham membeli sedikit oleh-oleh untuk keluarganya. Sebelum pulang dia mampir ke sebuah minimarket untuk membeli keperluan dapur dan kelengkapan untuk keberangkatannya.

 

"Udah ini aja Mas?" Tanya seorang kasir minimarket.

"Sekalian pulsa reguler 20 ribu ya Mba."

"Nomornya Mas?"

"08XX-XXXX-XXXX."

"Udah masuk Mas?"

"Udah, jadi semuanya berapa Mba?"

"Bentar ya Mas."

"Mba."

"Iya Mas?"

"Bener..Mba yang namanya Zahra?"

 

2 tahun kemudian...

 

"Dulu diem-diem kamu tertarik juga sama Zahra, eh, taunya sekarang..." Bima mengetahui Arkham yang ternyata mendekati Zahra setelah mendapat info darinya.

"Iya Bim, aku nyesel ngga berani ngutarain perasaan ke Zahra."

"Emang kronologi sebenernya hubunganmu sama Zahra gimana si Ar?"

"Semenjak pertama aku minta no hp, kita jadi sering chattingan, sharing ini itu, terus sering ketemuan."

"Aku inget, dulu sekitar 2 bulan setelah kamu berangkat, Zahra tiba-tiba juga berangkat ke Jakarta. Apa itu ada hubungannya sama kamu?."

"Itu masih diluar sepengetahuanku Bim, cuma kebetulan waktu itu Zahra ada panggilan kerja aja."

"Terus, darimana kalian mulai akrab, kamu tau dia anak tunggal, orangnya penyabar, penyayang. Denger semua yang kamu bilang tentang Zahra, malah aku pikir kalian udah jadian."

"Semua mengalir begitu aja Bim, cuma memang salahnya ada sama aku. Aku ngga pernah ngutarain apapun tentang perasaanku ke Zahra, karena aku selalu ngerasa belum siap, giliran aku udah siap..."

"Aku yang kasih tau kamu kalo Zahra udah dilamar orang."

"Iya Bim, aku nyesel."

"Nyesel ya gitu Ar, datengnya selalu belakangan. Emang dulu kamu ngga bisa jalanin dulu aja? Jangan terus-terusan terperangkap trauma, ngga baik Ar. Namanya hubungan kan gada yang sempurna, ada aja masalahnya."

"Bener kamu Bim."

"Kamu cuma ngga mau hubungan yang kamu jalanin nanti munculin masalah-masalah yang besar, apalagi sampe ngerugiin banyak orang, begitu kan?"

"Iya Bim, karena banyak sekarang hubungan yang ngebuat anak berselisih sama orangtuanya, saudara bahkan ada yang sampe dijauhin sama lingkungannya."

"Keinginanmu itu sudah baik Ar, aku paham jiwa kamu. Tapi, karena ada dari teman-teman kita yang seperti itu, bukan berarti kita akan seperti itu juga kan? Sudah saatnya kamu harus mulai yakin sama diri kamu sendiri."

"Baik Bim, mulai sekarang aku akan lebih berpikir positif sama yang aku lakuin."

"Kalo kamu aku kasih info lagi kira-kira mau langsung ada pergerakan ngga Ar?"

"Siapa Bim? Orang mana?"

"Tapi katanya kamu ngga mau kalo ngejalin hubungan sama orang satu desa kan?"

"Iya Bim, aku ngga enak jalaninnya. Iya kalo sampe bisa jalanin, kalo ditolak? Malunya ngga bisa aku bayangin di lingkungan sendiri Bim."

"Aisyah Ar, apa kamu emang gada pandangan ke dia? Cuma karena tetangga satu desa apa itu udah menutup kemungkinan buat hatimu kebuka ke dia? Semenjak dulu Aisyah pertama pacaran kemudian putus, dia udah jauh berubah jadi sangat dewasa, kan kamu yang bilang begitu. Kamu ingin cari perempuan yang punya sikap dewasa seperti Fiana kan Ar?"

"Iya Bim, sejauh ini emang Ana yang paling sesuai kalo soal kedewasaan. Sayang, keadaan latarbelakangnya, dia lebih pantes dapetin laki-laki yang lebih dari aku Bim."

"Kalo Aisyah, latarbelakang jelas nggada persoalan. Cantik? Dia kembang di desa kita loh Ar, apa cantiknya menurutmu masih kurang?"

"Aisyah ya Bim?" Tanggap Arkham seolah mulai mempertimbangkan.

 

4 tahun kemudian...

 

"Iiiihh lucunya..anak kedua kamu, siapa nama panggilannya Ar?" Ratna sedang berkunjung ke rumah Arkham untuk acara aqiqahan anak keduanya."

"Nama panggilannya Haliza Mba."

"Yeee...cantik banget adenya Affan. Mirip sama Mamahnya."

*Selesai*

 



Comments