Pengalaman Jatuh Bersama Liverpool



Sebagai seorang fans Liverpool Football Club sejak tahun 2000-an, saya sudah pada tahap keyakinan bahwa sepertinya Tuhan memang mencintai kami, namun tidak begitu suka kepada klub yang kami dukung. Saya yakin Tuhan mencintai kami, karena kesabaran para fans Liverpool di Indonesia menghadapi sindiran dan jadi sasaran risak di media sosial karena kekonyolan permainan klub yang kami dukung. Selama hampir 15 tahun, saya selalu merenovasi harapan bahwa tahun ini Liverpool akan menjadi juara liga. Jika gagal, kami selalu berkata musim depan akan jadi milik kita. Begitu sejak John Barnes terakhir mengangkat trofi Liga Inggris pada 1990. Setiap akhir pekan saya bersiap di depan televisi dengan optimisme yang selalu diperbarui.

Saya dan jutaan fans Liverpool di Indonesia yakin, kalau dari pekan ke pekan The Reds hanya sedang ditimpa kesialan hingga  tak kunjung mendulang kemenangan. Hingga pada suatu titik, saya merenung bagaimana dan mengapa saya mencintai Liverpool Football Club. Tentu saja motif dan sejarah orang mencintai sebuah klub sepak bola berbeda-beda. Biasanya, orang terikat dengan sebuah klub sepakbola karena kesamaan domisili dan faktor keturunan. Tapi tidak dengan saya karena kecintaan Ayah saya pada tim I-Rossoneri tidak diturunkan kepada saya. Begitupun kakak saya yang lebih menambatkan hatinya pada legenda pangeran Roma, Francesco Totti dan pemain ajaib Barcelona, Lionel Messi. Bisa dibilang kakak saya mencintai sebuah klub bola lantaran ada pemain yang diidolakannya.

Sementara untuk Liverpool FC, saya jelas tak punya cukup alasan biologis untuk mencintai atau terobsesi. Saya bukan orang Inggris dan seumur hidup tidak pernah menginjakkan kaki di Anfield. Satu-satunya pengetahuan saya soal sepakbola Inggris pada masa itu adalah pertandingan UCL tahun 2000-an, dimana saya mulai memperdalam kesukaan saya pada sepakbola dengan mengikuti kompetisi yang digadang-gadang paling spektakuler di Eropa. Namun cinta itu seperti takdir, dan kita tak tahu kapan akan tumbuh. Pertandingan perdana Liverpool yang saya saksikan di RCTI adalah pertandingan Uefa Champions League yang sekarang sudah lupa siapa lawan dan berapa skor terakhirnya pada saat pertandingan itu dilangsungkan. Yang saya ingat hanya ban kapten Liverpool yang tersemat di lengan pemain bernomor punggung 4, Sami Hyypia dan strikernya dengan nomor punggung 10 yang begitu fantastis.


Saat itu, saya memang kurang mengenal filosofi permainan tim sepakbola, dan seringkali jatuh suka karena nama-nama pemain yang tiba-tiba merasuk di hati karena gaya bermainnya yang mempesona. Selain kapten sementara Liverpool, Sami Hyppia dan Michael Owen juga ada beberapa nama pemain lainnya yaitu John Arne Riise, Jamie Carragher, Fernando Morientes dan Jerzy Dudek. Dan setelah nama-nama itu, barulah saya mengenal pemain yang ternyata akan menyandang nama besar di tim Merseyside Merah yaitu Xabi Alonso, Fernando Torres dan Funtastic Captain, “Steven Gerrard” yang pernah membawa armada merah menjuarai UCL 2005. Ya, pada kenyataannya Stevie-G bukanlah pemain yang membuat saya jatuh cinta pada Liverpool, sampai sekarang saya pun tak pernah tahu hal apa yang pertama kali membuat saya mencintai Liverpool.



Kecintaan itupun kian lama kian mendalam, hingga saya mulai mengulas sejarah-sejarah yang ada di dalam tim berlogo Liverbird tersebut. Dimulai dari Awal mula terbentuknya tim, pemain-pemain legenda sampai terjadinya dua tragedi besar yang dialami suporter si Merah (Tragedi Hillsborough 1989 yang mencabut nyawa 96 orang Scouser dan Tragedi Heysel yang terjadi saat final UCL 1985 melawan Juventus). Euforia kecintaan semakin memuncak kala klub kesayangan dikabarkan telah membuat agenda tour pra-musim ke Indonesia di tahun 2013. Segala upaya pun dilakukan demi menyaksikan tim pujaan secara langsung, melihat permainan para pemain idola secara nyata tanpa terhalang oleh layar kaca.



Dari semua yang saya alami bersama Liverpool, bisa disimpulkan bahwa saya mencintai The Reds dimana tim bukan dalam keadaan yang menakjubkan, lama puasa gelar bahkan tak pernah tahu kapan tim akan kembali pada masa jayanya. Dan inilah cinta, meski sedang terjatuh namun kita akan terus bangkit dan tetap berjalan bersama. You’ll never walk alone, kamu tidak akan berjalan sendirian.
Referensi : Wartawan beritajatim.com, Oryza A Wirawan.

Comments