Dari zaman ke zaman kata-kata mutiara atau quotes
sering dijadikan acuan atau nasihat. Tapi makin maraknya orang-orang yang
membaca quotes, bahkan banyak dari mereka yang menjadikannya pedoman untuk
jalan hidup yang mereka pilih, menjadikan bahaya tersendiri bagi mereka,
terutama bagi seseorang yang salah mengartikan maksud dari quotes itu sendiri.
Sebagai perumpamaan kita akan mengambil kata-kata
mutiara dalam kisah novel atau buku cerita lainnya. Sebuah nasihat dalam novel
dipisahkan menjadi satu kalimat yang disebut quotes. Sebagai contoh ada sebuah
kalimat menyebutkan, "Jadilah diri-sendiri dan tak perlu dengarkan celaan
orang lain". Dari ungkapan tersebut kita harus berhati-hati saat memahami
dan menjalankannya di kehidupan kita.
Dalam novel, kalimat itu disituasikan pada seseorang
yang seringkali dicela karena penampilan kutu bukunya yang terlihat cupu. Dia
memilih menjadi dirinya sendiri, tetap percaya diri, tetap gemar membaca buku
dan tak memperdulikan orang-orang yang memaki penampilannya. Bayangkan jika
kalimat tersebut justru dipakai oleh orang yang punya kebiasaan bersikap buruk.
Tak perlu disebutkan sikap buruk itu, yang jelas ia lebih memilih menjadi
diri-sendiri dengan sikap buruknya. Hingga dia tak mau mendengar nasihat orang
lain, dan malah menganggap nasihat itu sebagai umpatan orang-orang yang
membencinya. Pemahaman inilah yang membuat kata-kata mutiara kehilangan
kilaunya.
Anda yang mengenal diri anda. Anda juga yang paling
tahu atas apa yang anda lakukan, bagaimana anda dalam menyikapi suatu keadaan.
Dalam semua peristiwa kehidupan, satu hal yang harus anda yakini bahwa quotes
tak pernah mengizinkan anda untuk berbuat buruk, melainkan bertujuan agar anda
selalu berbuat benar dan memperbaiki diri anda menjadi manusia yang lebih baik.
Satu lagi contoh quotes dalam aplikasi kehidupan
yang salah, “Jika orang mencari akhirat, dunia pasti dapat. Tapi jika orang
hanya mencari dunia, akhirat belum tentu dapat”.
Sebuah nasihat yang sangat baik jika diamalkan
sesuai konteksnya, namun bisa menjadi buruk jika kalimat yang ada tersebut keluar
dari konteksnya. Misalnya, kebetulan orang yang membaca sedang dalam beban yang
cukup berat. Dalam situasi sulit menjalani pendidikan yang menguras pikiran,
juga pekerjaan yang dipenuhi tuntutan. Alhasil, karena membaca quotes tersebut
ia langsung membuat pandangannya sendiri. Melempar tanggungjawab pekerjaannya
pada orang lain dan menghilangkan fokus pada pendidikannya, dengan dalih ingin
melakukan hal-hal demi kepentingan akhiratnya semata. Apa dengan ini anda masih
yakin jika dengan meraih akhirat saja, dunia juga pasti akan anda dapat? Bisa
saja malah membuat anda kehilangan keduanya, baik dunia maupun akhirat.
Kesimpulan :
Sama halnya dengan bibir manusia, kata-kata mutiara
atau quotes juga seperti pisau, dimana ia bergantung pada siapa yang
memakainya. Dipakai untuk hal baik dia akan baik, tapi jika dipakai untuk hal
buruk dia akan menjadi buruk. Dan perlu diingat, bahwa sudah menjadi sikap
manusia yang selalu ingin melalui semuanya dengan yang mudah.
Saran :
Jangan hanya jadikan kata-kata mutiara untuk
mempermudah urusanmu, apalagi untuk membenarkan kesalahanmu. Melainkan jadikan
ia untuk membuka nuranimu, dan membuatmu melangkah di jalan yang benar meski jalannya
terjal dan penuh rintangan. Mari kita sama-sama belajar dari kata-kata mutiara
dan bersama menjadi berkilau karenanya. Karena kita sama-sama sadar,
mengamalkan kata-kata mutiara secara benar tak semudah saat kita menulis dan
mengucapkan.


Comments
Post a Comment