Jangan Biarkan Kata-kata Mutiara Kehilangan Kilaunya!


Dari zaman ke zaman kata-kata mutiara atau quotes sering dijadikan acuan atau nasihat. Tapi makin maraknya orang-orang yang membaca quotes, bahkan banyak dari mereka yang menjadikannya pedoman untuk jalan hidup yang mereka pilih, menjadikan bahaya tersendiri bagi mereka, terutama bagi seseorang yang salah mengartikan maksud dari quotes itu sendiri.


Sebagai perumpamaan kita akan mengambil kata-kata mutiara dalam kisah novel atau buku cerita lainnya. Sebuah nasihat dalam novel dipisahkan menjadi satu kalimat yang disebut quotes. Sebagai contoh ada sebuah kalimat menyebutkan, "Jadilah diri-sendiri dan tak perlu dengarkan celaan orang lain". Dari ungkapan tersebut kita harus berhati-hati saat memahami dan menjalankannya di kehidupan kita.

Dalam novel, kalimat itu disituasikan pada seseorang yang seringkali dicela karena penampilan kutu bukunya yang terlihat cupu. Dia memilih menjadi dirinya sendiri, tetap percaya diri, tetap gemar membaca buku dan tak memperdulikan orang-orang yang memaki penampilannya. Bayangkan jika kalimat tersebut justru dipakai oleh orang yang punya kebiasaan bersikap buruk. Tak perlu disebutkan sikap buruk itu, yang jelas ia lebih memilih menjadi diri-sendiri dengan sikap buruknya. Hingga dia tak mau mendengar nasihat orang lain, dan malah menganggap nasihat itu sebagai umpatan orang-orang yang membencinya. Pemahaman inilah yang membuat kata-kata mutiara kehilangan kilaunya.

Anda yang mengenal diri anda. Anda juga yang paling tahu atas apa yang anda lakukan, bagaimana anda dalam menyikapi suatu keadaan. Dalam semua peristiwa kehidupan, satu hal yang harus anda yakini bahwa quotes tak pernah mengizinkan anda untuk berbuat buruk, melainkan bertujuan agar anda selalu berbuat benar dan memperbaiki diri anda menjadi manusia yang lebih baik.

Satu lagi contoh quotes dalam aplikasi kehidupan yang salah, “Jika orang mencari akhirat, dunia pasti dapat. Tapi jika orang hanya mencari dunia, akhirat belum tentu dapat”.

Sebuah nasihat yang sangat baik jika diamalkan sesuai konteksnya, namun bisa menjadi buruk jika kalimat yang ada tersebut keluar dari konteksnya. Misalnya, kebetulan orang yang membaca sedang dalam beban yang cukup berat. Dalam situasi sulit menjalani pendidikan yang menguras pikiran, juga pekerjaan yang dipenuhi tuntutan. Alhasil, karena membaca quotes tersebut ia langsung membuat pandangannya sendiri. Melempar tanggungjawab pekerjaannya pada orang lain dan menghilangkan fokus pada pendidikannya, dengan dalih ingin melakukan hal-hal demi kepentingan akhiratnya semata. Apa dengan ini anda masih yakin jika dengan meraih akhirat saja, dunia juga pasti akan anda dapat? Bisa saja malah membuat anda kehilangan keduanya, baik dunia maupun akhirat.

Kesimpulan :


Sama halnya dengan bibir manusia, kata-kata mutiara atau quotes juga seperti pisau, dimana ia bergantung pada siapa yang memakainya. Dipakai untuk hal baik dia akan baik, tapi jika dipakai untuk hal buruk dia akan menjadi buruk. Dan perlu diingat, bahwa sudah menjadi sikap manusia yang selalu ingin melalui semuanya dengan yang mudah.

Saran :
Jangan hanya jadikan kata-kata mutiara untuk mempermudah urusanmu, apalagi untuk membenarkan kesalahanmu. Melainkan jadikan ia untuk membuka nuranimu, dan membuatmu melangkah di jalan yang benar meski jalannya terjal dan penuh rintangan. Mari kita sama-sama belajar dari kata-kata mutiara dan bersama menjadi berkilau karenanya. Karena kita sama-sama sadar, mengamalkan kata-kata mutiara secara benar tak semudah saat kita menulis dan mengucapkan.
 

Comments